Keausan roda dan jalan rel yang tinggi dapat menurunkan keselamatan, keandalan
operasional, dan meningkatkan kebutuhan perawatan. Pelumasan pada area Round
Gauge Corner (RGC) terbukti efektif mengurangi keausan, namun jika metode
pelumasan menggunakan metode manual, akan berpotensi menyebabkan
kontaminasi 3rd body layer pada permukaan utama rel (tapak/ tread) sehingga
menurunkan koefisien adhesi antara roda dan jalan rel. Kondisi ini menjadi
tantangan karena sistem kendali traksi LRT Jabodebek yang saat ini hanya
mengakomodasi kondisi dry dan wet adhesion. Penelitian ini mencoba
mengembangkan sistem kendali traksi adaptif berbasis supervised machine
learning sebagai input informasi untuk mengetahui kondisi adhesi. Hasil klasifikasi
menggunakan algoritma K-Nearest Neighbors (K-NN) dengan filter threshold
?>0,15 menunjukkan akurasi rata-rata sebesar 79,83% dalam membedakan kondisi
dry, wet, dan oil adhesion. Namun, klasifikasi online berbasis sliding window
dinilai kurang efektif karena kejadian kontaminasi pelumas bersifat lokal,
sementara, dan tidak kontinu. Dengan menerapkan metode Proportional Speed
Controller yang dikombinasikan Maximum Torque Estimation Observer (MTEO),
menggunakan parameter optimum Kp=0,7 dan ?=2,6, sistem mampu
mempertahankan slip ratio pada kondisi maksimum yaitu tidak melebihi 0,0286
saat dry adhesion, 0,1008 saat wet adhesion, dan 0,0805 saat oil adhesion.
Dibandingkan metode Cascade Proportional-Derivative (PD) Speed–Proportional
Slip Controller dan metode Cascade Proportional-Derivative (PD) Speed–
Adaptive Sliding Mode Controller (ASMC), metode Maximum Torque Estimation
Observer (MTEO) memberikan performa terbaik dalam menjaga kestabilan kontak
antara roda dan jalan rel pada berbagai kondisi adhesi.
Perpustakaan Digital ITB