Abstrak - MUHAMMAD DHANNI FIRDAUS
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Terbatas Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan
Aktivitas lari merupakan olahraga ketahanan yang mudah diakses, namun hingga
70% pelari melaporkan side-stitch setiap tahunnya dan 20–40% mengalami
exercise-induced dyspnoea. Masalah ini berakar dari ketidaksinkronan Locomotor-
Respiratory Coupling (LRC)—sinkronisasi ritme pernapasan dengan irama
langkah kaki dalam rasio ganjil 3:2 atau 2:1. Mekanisme biomekanik visceral
piston yang diukur Daley et al. (2013) menunjukkan step-driven flows sebesar
0,97 ± 0,45 L/s berkontribusi 10–12% volume ventilasi. Survei terhadap 66
responden pelari pemula dan rekreasi mengonfirmasi prevalensi masalah: 59,1%
melaporkan sesak napas sedang hingga berat, 63,6% mengalami side-stitch, dan
74,2% dari yang mengetahui teknik pernapasan ritmik merasa sulit
mempertahankannya tanpa alat bantu. Perangkat wearable komersial seperti Apple
Watch dan Garmin hanya mengestimasi laju pernapasan agregat dari PPG atau
HRV—memadai saat istirahat tetapi terdegradasi di bawah gerakan. Belum ada
perangkat yang menyediakan deteksi fase per napas secara real-time pada rentang
12–70 BPM selama berlari.
Tugas akhir ini berfokus pada perancangan dan implementasi dua subsistem dalam
sistem chest-strap terintegrasi untuk memandu LRC: Subsistem Sensor Pernapasan
dan Subsistem Manajemen Daya. Subsistem Sensor Pernapasan menggunakan FSR
402 (Interlink Electronics) dalam rakitan mekanis piston-rail dengan tiga strategi
mechanical decoupling—reposisi anatomis ke xiphoid process (T9–T10), rigid rail
constraint akrilik, dan indirect coupling via kabel baja berlapis nilon melalui Dring—
sebagai respons terhadap temuan Raiano et al. (2020) bahwa band-pass
filtering hanya mereduksi ? 4% PSD motion artifact dalam pita pernapasan. Sinyal
mentah dari voltage divider di-buffer oleh operational amplifier rail-to-rail dan
melewati anti-aliasing filter sebelum di-sampling ADC 12-bit mikrokontroler pada
50 Hz. Pipeline DSP real-time yang diimplementasikan mencakup: filter digital IIR
Butterworth orde-2 low-pass, auto-calibration 12 detik yang mengekstraksi
parameter deteksi personal dari statistik sinyal AC pengguna, dynamic detrending
tiga-mode dengan adaptive ????-blending (Fast, Hold, Freeze) berdasarkan laju
pernapasan terestimasi, adaptive delta thresholding yang menggantikan zerocrossing,
dan three-gate validation (Amplitudo, Durasi, Histeresis) untuk
memvalidasi setiap transisi fase. Subsistem ini menerima input deformasi mekanis
dinding dada dan menghasilkan sinyal tegangan analog ke ADC mikrokontroler.
Subsistem Manajemen Daya menyediakan suplai 3,3 V teregulasi dari baterai LiPo
800 mAh melalui charger dengan algoritma CC/CV dan proteksi over-discharge,
regulator linier low-dropout dengan PSRR tinggi untuk menghindari switching
noise pada analog front-end, fuel gauge dengan estimasi state-of-charge
terkompensasi beban dan suhu via antarmuka I2C, serta high-side switch MOSFET
untuk memutus periferal non-esensial saat deep sleep. Firmware
mengimplementasikan finite state machine empat-state (UNKNOWN, NORMAL,
LOW_BATTERY, HardCutoff) dengan sanity checking, multi-cycle debounce, dan
Release Trap Logic. Subsistem ini menerima tegangan 5 VDC dari USB dan data
permintaan via antarmuka serial, menghasilkan tegangan suplai teregulasi serta data
status baterai ke mikrokontroler. PCB modular tiga-board dengan star-grounding
dan enclosure 3D-printed IP54-rated melengkapi integrasi sistem.
Pengujian dilakukan terhadap tiga subjek (2 pria, 1 wanita, usia 21–23 tahun)
dengan protokol pernapasan terkontrol metronom pada dua titik ekstrem: 12 BPM
(duduk) dan ? 70 BPM (lari di tempat), menggunakan ground truth dari video 60
fps dan rekaman audio. Akurasi per-subject mean mencapai 100% pada 12 BPM
dan 99,1% pada 70 BPM, dengan sensitivitas 98,6%—melampaui target spesifikasi
? 90%. Noise rejection pada 200 SPM mencapai 98,8%, memvalidasi efektivitas
mechanical decoupling. Estimasi laju pernapasan menunjukkan MAE 0,46 ± 0,21
BPM dan 1,63 ± 0,45 BPM. Auto-calibration tervalidasi sebagai functional
requirement: subjek dengan weak thoracic expansion meningkat dari 0% ke 95,8%
sensitivitas. Runtime sistem mencapai ? 200 menit pada beban penuh, melampaui
spesifikasi 120 menit. Seluruh pengujian durabilitas (IP54, suhu 10–40°C, drop test
1 m) terpenuhi. Shoulder-dominant breather diidentifikasi sebagai batas
fundamental deteksi modalitas FSR single-point.
Perpustakaan Digital ITB