digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800


COVER Christy Monika Pakpahan
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 1 Christy Monika Pakpahan
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 2 Christy Monika Pakpahan
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 3 Christy Monika Pakpahan
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 4 Christy Monika Pakpahan
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

BAB 5 Christy Monika Pakpahan
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

PUSTAKA Christy Monika Pakpahan
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

LAMPIRAN Christy Monika Pakpahan
Terbatas  Esha Mustika Dewi
» Gedung UPT Perpustakaan

Pesisir Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang, merupakan salah satu kawasan dengan laju akresi tertinggi di Pantai Utara Jawa, yang pembentukannya dipengaruhi oleh suplai sedimen dalam bentuk Total Suspended Solid (TSS) dari Sungai Cilamaya, Blanakan, dan Ciasem. Namun, informasi mengenai pola sebaran TSS secara simultan pada ketiga muara tersebut di musim yang berbeda masih terbatas. Penelitian ini bertujuan menganalisis pola sebaran spasial konsentrasi TSS, menguji pengaruh musim dan lokasi muara terhadap TSS, serta mengidentifikasi keterkaitan tutupan lahan riparian dengan besaran suplai TSS. Sampel diambil pada musim kemarau (Agustus 2025) dan musim hujan (Januari 2026) di 30 titik pada masing-masing muara secara purposive sampling, sehingga diperoleh 180 sampel. Konsentrasi TSS dianalisis dengan metode gravimetri mengacu SNI 06-6989.3:2019, dilanjutkan uji Two-Way ANOVA serta analisis spasial sebaran TSS dan tutupan lahan riparian. Hasil penelitian menunjukkan konsentrasi TSS meningkat dari 101,0–108,3 mg/L pada musim kemarau menjadi 135,4–144,3 mg/L pada musim hujan, dengan nilai maksimum 338,8 mg/L di Muara Ciasem. Konsentrasi tertinggi secara konsisten berada di sekitar mulut muara, mengindikasikan karakteristik zona Estuarine Turbidity Maximum (ETM). Two-Way ANOVA menunjukkan musim berpengaruh sangat signifikan terhadap konsentrasi TSS (p<0,001), sedangkan lokasi muara (p=0,929) dan interaksi musim×muara (p=0,975) tidak berpengaruh signifikan. Variasi tutupan mangrove riparian antarmuara juga tidak menunjukkan keterkaitan nyata dengan variasi konsentrasi TSS. Penelitian ini menyimpulkan bahwa musim hujan menjadi faktor utama peningkatan konsentrasi TSS, sedangkan ketiga sungai memberikan suplai sedimen yang relatif setara ke Teluk Blanakan. Temuan ini dapat menjadi dasar penentuan prioritas rehabilitasi mangrove dan riparian serta pengelolaan lahan akresi di kawasan pesisir.