Tidak semua anak tumbuh dalam struktur keluarga yang lazim direpresentasikan
dalam buku cerita anak Indonesia, yakni dikelilingi kehadiran lengkap figur ibu dan
ayah. Ketimpangan antara realitas sosial dan keterbatasan representasi visual ini
berisiko menciptakan alienasi simbolik bagi anak dari keluarga ibu tunggal. Kajian
ini menawarkan kebaruan dengan menjembatani analisis wacana multimodal dan
pengukuran afektif empiris untuk mengungkap dinamika negosiasi identitas pada
pembaca usia 6-7 tahun. Melalui desain embedded mixed-methods, penelitian ini
membedah representasi visual pada enam buku cerita bergambar yang mencakup
kategori keluarga ibu tunggal, keluarga inti, dan keluarga besar. Analisis dilakukan
melalui strategi encoding visual menggunakan kerangka Visual Grammar yang
diintegrasikan dengan proses decoding melalui instrumen klasifikasi biner dan uji
statistik Wilcoxon.
Temuan mengungkap bahwa representasi keluarga ibu tunggal yang mengusung
narasi resiliensi memberikan pengaruh signifikan dengan kekuatan efek yang besar
terhadap peningkatan respons afektif positif anak. Integrasi data menunjukkan
adanya pluralitas makna dalam proses decoding, di mana respons anak sangat
dipengaruhi oleh resonansi memori personal terhadap detail objek keseharian yang
berfungsi sebagai cermin atas realitas anak. Sebaliknya, citra keluarga inti yang
terlalu normatif memicu kejenuhan atensi hingga resistensi afektif ekstrem sebagai
bentuk oppositional reading. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bagi anak ibu
tunggal, validasi struktur realitas merupakan prasyarat mutlak bagi terciptanya rasa
aman sebelum mereka mampu mengakses dunia imajinasi. Sebagai implikasi
praktis, strategi desain buku cerita bergambar untuk ibu tunggal sebaiknya
menerapkan pemanfaatan objek akrab bagi anak, redefinisi otoritas ibu, mitigasi
figur ayah, serta kontras warna sebagai navigasi afektif guna menjaga stabilitas
emosi pembaca.
Perpustakaan Digital ITB