digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Keindonesiaan dalam buku sastra anak sering dipahami sebatas penanda yang tampak, seperti pakaian adat, rumah tradisional, tarian, atau makanan khas. Pemahaman tersebut cenderung mereduksi identitas budaya menjadi kumpulan simbol permukaan, padahal keindonesiaan juga hadir melalui bahasa, praktik sosial sehari-hari, relasi antargenerasi, kebersamaan, serta hubungan manusia dengan alam. Di sisi lain, buku sastra anak yang telah melalui proses kurasi dan memperoleh penghargaan belum tentu menghadirkan representasi budaya yang mendalam. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana keindonesiaan direpresentasikan melalui tanda linguistik, tanda visual, dan relasi antara keduanya, bagaimana makna tersebut dikonstruksi pada tataran denotasi, konotasi, hingga mitos atau ideologi, serta bagaimana keterkaitan representasi keindonesiaan terbentuk di antara buku-buku dalam korpus. Penelitian ini menawarkan pembacaan berlapis yang menghubungkan semiotika Barthes, relasi ilustrasinarasi, dan sintesis lintas buku dalam satu kerangka analisis. Kebaruannya terletak pada penggabungan ketiga pendekatan tersebut sekaligus untuk membaca representasi keindonesiaan, alih-alih menggunakannya secara terpisah seperti pada penelitian-penelitian sebelumnya. Objek penelitian dibatasi pada tiga dari dua puluh buku terpilih TaCita 2024, yaitu Pohon-Pohon yang Hilang, Peliharaan Istimewa, dan Ketika Dama Melaut. Ketiga buku dipilih secara purposif berdasarkan kesesuaian dengan jenjang pembaca B2–B3 (tahap operasional konkret), kesamaan tema relasi manusia dan lingkungan, serta penggunaan penanda keindonesiaan yang tidak bertumpu pada simbol maupun istilah kedaerahan yang eksplisit. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif interpretatif. Data berupa tanda visual, tanda linguistik, dan relasi keduanya pada bentang halaman dikumpulkan melalui studi dokumentasi, kemudian dianalisis secara bertahap menggunakan semiotika dua tataran Roland Barthes (denotasi, konotasi, dan mitos atau ideologi), pola relasi ilustrasi dan narasi menurut Nikolajeva dan Scott, serta paradigma representasi konstruksionis Stuart Hall. Analisis dilakukan mulai dari pembacaan per bentang, sintesis per buku, hingga sintesis lintas buku. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi teori dan sumber, pembacaan berulang, pemeriksaan pakar, thick description, serta rekam jejak analisis. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama. Pertama, keindonesiaan pada ketiga buku tidak dibangun melalui banyak simbol budaya yang tersebar di setiap halaman, melainkan melalui satu atau dua penanda yang spesifik dan relatif jarang muncul, seperti plat nomor kendaraan, motif batik, atau papan nama sekolah negeri, yang berfungsi sebagai pengikat cerita pada konteks Indonesia, sementara relasi teks dan ilustrasi di sekitarnya tetap mengikuti kebutuhan naratif. Kedua, pada tataran denotasi, penanda yang secara langsung menunjukkan Indonesia jumlahnya sangat terbatas; sebagian besar representasi keindonesiaan baru terbentuk pada tataran konotasi melalui pengulangan tanda visual serta keterhubungannya dengan fakta ilmiah dan budaya mengenai satwa maupun masyarakat yang direpresentasikan. Ketiga, setiap buku menaturalisasi ideologi yang berbeda, yaitu tanggung jawab manusia menjaga ruang bersama dalam Pohon-Pohon yang Hilang, keyakinan bahwa sesuatu menjadi berharga karena diperhatikan dan dirawat, bukan karena kelangkaannya, dalam Peliharaan Istimewa, serta hubungan timbal balik manusia dengan laut dalam Ketika Dama Melaut. Meskipun demikian, ketiganya bertemu pada satu prinsip bersama, yaitu penolakan terhadap pandangan bahwa manusia berhak menguasai sepenuhnya makhluk lain maupun lingkungan, yang dalam penelitian ini dirumuskan sebagai etika non-dominasi. Keempat, bagian cerita yang paling kuat merepresentasikan keindonesiaan umumnya berdekatan dengan bagian yang paling kuat menyampaikan ideologi, sehingga keduanya dibangun secara saling menguatkan. Dari sisi relasi teks dan ilustrasi, ketiga buku secara konsisten menempatkan ilustrasi sebagai unsur pembangun narasi, bukan sekadar hiasan. Pola symmetry dan contradiction tidak ditemukan pada seluruh korpus, sedangkan pola counterpoint hanya muncul pada Pohon-Pohon yang Hilang di titik krisis cerita. Temuan ini memberikan implikasi konseptual bagi ilustrator dan penulis untuk mengutamakan akurasi faktual dalam merepresentasikan budaya, bagi penerbit dan penyelenggara penghargaan untuk menjadikan ketepatan riset sebagai salah satu kriteria penilaian, serta bagi pendidik dan orang tua untuk mendampingi anak membaca lapisan makna yang tidak selalu tampak secara langsung.