Keindonesiaan dalam buku sastra anak sering dipahami sebatas penanda yang
tampak, seperti pakaian adat, rumah tradisional, tarian, atau makanan khas.
Pemahaman tersebut cenderung mereduksi identitas budaya menjadi kumpulan
simbol permukaan, padahal keindonesiaan juga hadir melalui bahasa, praktik sosial
sehari-hari, relasi antargenerasi, kebersamaan, serta hubungan manusia dengan
alam. Di sisi lain, buku sastra anak yang telah melalui proses kurasi dan
memperoleh penghargaan belum tentu menghadirkan representasi budaya yang
mendalam. Penelitian ini bertujuan mengungkap bagaimana keindonesiaan
direpresentasikan melalui tanda linguistik, tanda visual, dan relasi antara keduanya,
bagaimana makna tersebut dikonstruksi pada tataran denotasi, konotasi, hingga
mitos atau ideologi, serta bagaimana keterkaitan representasi keindonesiaan
terbentuk di antara buku-buku dalam korpus. Penelitian ini menawarkan
pembacaan berlapis yang menghubungkan semiotika Barthes, relasi ilustrasinarasi, dan sintesis lintas buku dalam satu kerangka analisis. Kebaruannya terletak
pada penggabungan ketiga pendekatan tersebut sekaligus untuk membaca
representasi keindonesiaan, alih-alih menggunakannya secara terpisah seperti pada
penelitian-penelitian sebelumnya. Objek penelitian dibatasi pada tiga dari dua
puluh buku terpilih TaCita 2024, yaitu Pohon-Pohon yang Hilang, Peliharaan
Istimewa, dan Ketika Dama Melaut. Ketiga buku dipilih secara purposif
berdasarkan kesesuaian dengan jenjang pembaca B2–B3 (tahap operasional
konkret), kesamaan tema relasi manusia dan lingkungan, serta penggunaan penanda
keindonesiaan yang tidak bertumpu pada simbol maupun istilah kedaerahan yang
eksplisit. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif
interpretatif. Data berupa tanda visual, tanda linguistik, dan relasi keduanya pada
bentang halaman dikumpulkan melalui studi dokumentasi, kemudian dianalisis
secara bertahap menggunakan semiotika dua tataran Roland Barthes (denotasi,
konotasi, dan mitos atau ideologi), pola relasi ilustrasi dan narasi menurut
Nikolajeva dan Scott, serta paradigma representasi konstruksionis Stuart Hall.
Analisis dilakukan mulai dari pembacaan per bentang, sintesis per buku, hingga
sintesis lintas buku. Keabsahan data dijaga melalui triangulasi teori dan sumber,
pembacaan berulang, pemeriksaan pakar, thick description, serta rekam jejak
analisis. Hasil penelitian menunjukkan empat temuan utama. Pertama,
keindonesiaan pada ketiga buku tidak dibangun melalui banyak simbol budaya
yang tersebar di setiap halaman, melainkan melalui satu atau dua penanda yang
spesifik dan relatif jarang muncul, seperti plat nomor kendaraan, motif batik, atau
papan nama sekolah negeri, yang berfungsi sebagai pengikat cerita pada konteks
Indonesia, sementara relasi teks dan ilustrasi di sekitarnya tetap mengikuti
kebutuhan naratif. Kedua, pada tataran denotasi, penanda yang secara langsung
menunjukkan Indonesia jumlahnya sangat terbatas; sebagian besar representasi
keindonesiaan baru terbentuk pada tataran konotasi melalui pengulangan tanda
visual serta keterhubungannya dengan fakta ilmiah dan budaya mengenai satwa
maupun masyarakat yang direpresentasikan. Ketiga, setiap buku menaturalisasi
ideologi yang berbeda, yaitu tanggung jawab manusia menjaga ruang bersama
dalam Pohon-Pohon yang Hilang, keyakinan bahwa sesuatu menjadi berharga
karena diperhatikan dan dirawat, bukan karena kelangkaannya, dalam Peliharaan
Istimewa, serta hubungan timbal balik manusia dengan laut dalam Ketika Dama
Melaut. Meskipun demikian, ketiganya bertemu pada satu prinsip bersama, yaitu
penolakan terhadap pandangan bahwa manusia berhak menguasai sepenuhnya
makhluk lain maupun lingkungan, yang dalam penelitian ini dirumuskan sebagai
etika non-dominasi. Keempat, bagian cerita yang paling kuat merepresentasikan
keindonesiaan umumnya berdekatan dengan bagian yang paling kuat
menyampaikan ideologi, sehingga keduanya dibangun secara saling menguatkan.
Dari sisi relasi teks dan ilustrasi, ketiga buku secara konsisten menempatkan
ilustrasi sebagai unsur pembangun narasi, bukan sekadar hiasan. Pola symmetry dan
contradiction tidak ditemukan pada seluruh korpus, sedangkan pola counterpoint
hanya muncul pada Pohon-Pohon yang Hilang di titik krisis cerita. Temuan ini
memberikan implikasi konseptual bagi ilustrator dan penulis untuk mengutamakan
akurasi faktual dalam merepresentasikan budaya, bagi penerbit dan penyelenggara
penghargaan untuk menjadikan ketepatan riset sebagai salah satu kriteria penilaian,
serta bagi pendidik dan orang tua untuk mendampingi anak membaca lapisan
makna yang tidak selalu tampak secara langsung.
Perpustakaan Digital ITB