digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

IRuang makan pada PSBN Wyata Guna adalah sebuah area yang digunakan untuk penyandang disabilitas netra saat waktunya makan untuk mengambil makanan maupun untuk makan di ruang makan tersebut. Ruangan ini memiliki kompleksitas dan tingkat aktivitas yang tinggi. Karena aktivitas yang terjadi, pergerakan penyandang disabilitas netra dalam bersirkulasi menjadi hal yang penting pada ruang makan ini. Namun kurangnya treatment pada ruang makan ini menyebabkan sering terjadinya tabrakan maupun kesulitan bagi penyandang disabilitas netra dalam menemukan arah. Oleh karena itu, layout menjadi hal yang penting pada ruang makan ini, namun belum memiliki rancangan yang efektif. Dengan masalah tersebut, penelitian yang berjudul Rancangan Layout Ruang Makan untuk Penyandang Disabilitas Netra pada PSBN Wyata Guna berdasarkan Pertimbangan Aksesibilitas ini memiliki tujuan untuk merancang layout ruang yang dapat merespon serta memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas netra di dalam sebuah ruangan dan dalam penelitian ini ruang yang dirancang adalah ruang makan. Untuk itu perlu diketahui bagaimana karakter serta kemampuan penyandang disabilitas netra dalam bersirkulasi di dalam ruangan pada PSBN Wyata Guna serta bagaimana kebutuhan penyandang disabilitas netra ketika bersirkulasi di dalam ruangan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif, dengan tahap observasi, wawancara, serta eksperimen. Kemudian dalam perancangannya digunakan metode design thinking dengan tahapan empathize, defining, ideating, dan evaluating. Dalam prosesnya, telah didapat kesimpulan yaitu jarak tidak signifikan untuk menentukan waktu perpindahan dalam bersirkulasi di dalam ruang makan, hal yang paling penting bagi penyandang disabilitas netra yaitu petunjuk yang terletak pada area sirkulasi. Petunjuk yang dimaksud dapat berupa penanda dengan jarak yang sama pada setiap petunjuknya. Selain penanda pada area sirkulasi, furnitur dan benda lainnya juga dapat menjadi petunjuk bagi penyandang disabilitas netra selama tidak menghambat pergerakan dalam bersirkulasi. Harapannya dengan adanya penelitian ini dapat menjadi rekomendasi untuk penelitian selanjutnya, baik akademisi maupun lembaga terkait serta sebagai masukan untuk perancang interior dan arsitek dalam merancang ruang makan untuk penyandang disabilitas netra dalam skala kecil. Selain itu untuk lembaga terkait, semoga penelitian ini dapat memberikan kontribusi yang bermanfaat dalam pengembangan lembaga tersebut kedepannya.