Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses kreatif dalam penciptaan video
mapping, bentuk representasi multimodal yang digunakan, relasi antarmoda dalam
karya, makna yang terbentuk melalui penggunaan berbagai moda tersebut, serta
proses transformasi mitos menjadi kesadaran sosial masyarakat. Analisis terhadap
proses kreatif diperlukan untuk memahami bagaimana suatu gagasan dikembangkan
menjadi konsep dan kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk representasi
multimodal. Dalam penciptaan video mapping, hasil visual yang tampak pada karya
merupakan konsekuensi dari serangkaian keputusan kreatif yang melibatkan
pemilihan cerita, bahasa, musik, simbol visual, gerak, serta pemanfaatan ruang.
Keputusan-keputusan tersebut tidak selalu dapat dipahami hanya melalui
pengamatan terhadap karya akhir, sehingga diperlukan penelusuran terhadap proses
yang melatarbelakangi pembentukannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data penelitian berupa karya video
mapping, unsur visual dan auditori yang terdapat di dalam karya, teks pupuh sebagai
bagian dari narasi, serta data wawancara dengan pekarya. Analisis proses kreatif
menggunakan teori Graham Wallas yang meliputi tahap preparasi, inkubasi
iluminasi, dan verifikasi, sedangkan analisis representasi dan relasi antarmoda
menggunakan perspektif multimodal Gunther Kress. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa proses kreatif pekarya tidak hanya menghasilkan konsep visual, tetapi juga
menentukan cara gagasan budaya dan lingkungan diterjemahkan ke dalam berbagai
moda. Gagasan yang diperoleh melalui proses penggalian cerita, budaya, dan
persoalan kebencanaan dikembangkan menjadi konsep yang kemudian
direpresentasikan melalui moda verbal, auditori, visual, gestural, dan spasial.
Penelitian juga menemukan bahwa satu gagasan dapat mengalami transformasi ke
dalam beberapa moda dengan fungsi semiotik yang berbeda, dan bahwa relasi antar
moda tidak hanya berfungsi untuk memperkuat pesan yang sama, tetapi dapat
memperluas dan mentransformasikan makna. Selain itu, penelitian ini menemukan
bahwa mitos Oray Tapa mengalami reinterpretasi dari sekadar narasi lokal menjadi
metafora bagi Sesar Lembang, sehingga berfungsi sebagai media penyampaian pesan
mitigasi bencana. Melalui perpaduan berbagai moda dalam pertunjukan video
mapping, kesadaran individu terhadap risiko bencana berkembang menjadi
kesadaran sosial yang mendorong kepedulian dan kesiapsiagaan bersama.
Perpustakaan Digital ITB