digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses kreatif dalam penciptaan video mapping, bentuk representasi multimodal yang digunakan, relasi antarmoda dalam karya, makna yang terbentuk melalui penggunaan berbagai moda tersebut, serta proses transformasi mitos menjadi kesadaran sosial masyarakat. Analisis terhadap proses kreatif diperlukan untuk memahami bagaimana suatu gagasan dikembangkan menjadi konsep dan kemudian ditransformasikan ke dalam bentuk representasi multimodal. Dalam penciptaan video mapping, hasil visual yang tampak pada karya merupakan konsekuensi dari serangkaian keputusan kreatif yang melibatkan pemilihan cerita, bahasa, musik, simbol visual, gerak, serta pemanfaatan ruang. Keputusan-keputusan tersebut tidak selalu dapat dipahami hanya melalui pengamatan terhadap karya akhir, sehingga diperlukan penelusuran terhadap proses yang melatarbelakangi pembentukannya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif-analitis. Data penelitian berupa karya video mapping, unsur visual dan auditori yang terdapat di dalam karya, teks pupuh sebagai bagian dari narasi, serta data wawancara dengan pekarya. Analisis proses kreatif menggunakan teori Graham Wallas yang meliputi tahap preparasi, inkubasi iluminasi, dan verifikasi, sedangkan analisis representasi dan relasi antarmoda menggunakan perspektif multimodal Gunther Kress. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kreatif pekarya tidak hanya menghasilkan konsep visual, tetapi juga menentukan cara gagasan budaya dan lingkungan diterjemahkan ke dalam berbagai moda. Gagasan yang diperoleh melalui proses penggalian cerita, budaya, dan persoalan kebencanaan dikembangkan menjadi konsep yang kemudian direpresentasikan melalui moda verbal, auditori, visual, gestural, dan spasial. Penelitian juga menemukan bahwa satu gagasan dapat mengalami transformasi ke dalam beberapa moda dengan fungsi semiotik yang berbeda, dan bahwa relasi antar moda tidak hanya berfungsi untuk memperkuat pesan yang sama, tetapi dapat memperluas dan mentransformasikan makna. Selain itu, penelitian ini menemukan bahwa mitos Oray Tapa mengalami reinterpretasi dari sekadar narasi lokal menjadi metafora bagi Sesar Lembang, sehingga berfungsi sebagai media penyampaian pesan mitigasi bencana. Melalui perpaduan berbagai moda dalam pertunjukan video mapping, kesadaran individu terhadap risiko bencana berkembang menjadi kesadaran sosial yang mendorong kepedulian dan kesiapsiagaan bersama.