digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Gangguan jaringan distribusi tenaga listrik akibat cuaca ekstrem merupakan tantangan operasional utama bagi PT PLN (Persero) karena berdampak langsung pada keandalan pasokan, indeks keandalan SAIDI dan SAIFI, serta biaya pemeliharaan jaringan. Kondisi geografis Indonesia yang rawan bencana hidrometeorologi menjadikan kemampuan memprediksi gangguan berbasis data cuaca sebagai kebutuhan operasional yang mendesak. Penelitian ini membandingkan kinerja tiga keluarga model pembelajaran mesin, yaitu model linear, berbasis pohon, dan sekuensial, dalam memprediksi gangguan jaringan distribusi dari data cuaca harian, serta menguji apakah penggabungan model (hybrid) melalui stacking mampu mengungguli model tunggal pada data dengan ketidakseimbangan kelas ekstrem. Dataset terdiri atas 2.803.926 baris hasil integrasi riwayat gangguan berpenyebab cuaca dari aplikasi APKT dengan data cuaca harian Open-Meteo sepanjang 1 Januari sampai 31 Desember 2024, mencakup empat unit induk PLN, yaitu UID Jawa Barat, UIW Sulawesi Utara, Tengah, dan Gorontalo, UIW Sulawesi Selatan, Tenggara, dan Barat, dan UIW Sumatera Selatan-Jambi-Bengkulu. Kelas positif berjumlah 7.899 kejadian atau 0,28% dari seluruh baris, sehingga rasio kelas mencapai 1:354. Pra-pemrosesan mencakup penghapusan duplikat, penskalaan RobustScaler, serta seleksi fitur melalui matriks korelasi dan Variance Inflation Factor yang menyisakan 11 fitur cuaca. Transformasi Yeo-Johnson diuji sebagai dua jalur eksperimen terpisah, yaitu dengan dan tanpa transformasi. Validasi menggunakan forward chaining sembilan fold dengan bulan uji April sampai Desember agar model selalu diuji pada data masa depan. Empat model dasar, yaitu Weighted Logistic Regression (WLR), XGBoost, Random Forest, dan Gated Recurrent Unit (GRU) dengan Focal Loss, digabungkan melalui stacking temporal dengan meta learner regresi logistik teregularisasi L1 dan L2 serta kalibrasi Platt dan Isotonic, menghasilkan 90 konfigurasi pada masing-masing jalur. Metrik utama adalah PR-AUC, dilengkapi Recall, Precision, F2, G-Mean, dan Balanced Accuracy pada ambang optimal. Hasil evaluasi menunjukkan WLR sebagai model terbaik secara konsisten. Pada evaluasi per fold, WLR memperoleh PR-AUC rata-rata 0,0395, sekitar empat belas ii kali prevalensi kelas positif (0,0395/0,0028 ? 14,1), mengungguli Random Forest 0,0025, XGBoost 0,0023, dan GRU 0,0021. Pada protokol stacking, WLR mencapai PR-AUC 0,0411 tanpa transformasi dan 0,0568 dengan Yeo-Johnson. Eksperimen menyeluruh atas 90 konfigurasi membuktikan bahwa model tunggal WLR tetap menjadi konfigurasi terbaik dibandingkan seluruh kombinasi dua, tiga, maupun empat model; pencarian bobot weighted average turut menegaskannya dengan menempatkan bobot 0,84 pada WLR. Temuan ini menunjukkan hubungan cuaca dan gangguan efektif didekati secara linear, sekaligus memberi keuntungan praktis berupa model yang sederhana, cepat dilatih, dan mudah diinterpretasikan oleh unit operasional. Pengaruh Yeo-Johnson terbukti spesifik terhadap jenis model: menstabilkan pelatihan GRU dari 0,0021 menjadi 0,0057, sementara WLR bekerja optimal pada distribusi asli. Kalibrasi Platt lebih stabil dengan rata-rata 0,0241 dibandingkan Isotonic 0,0094. Uji ketahanan temporal menunjukkan sinyal prediktif melekat kuat pada cuaca hari kejadian, dengan PR-AUC 0,0054 pada horizon T+1. Berdasarkan karakteristik tersebut, model diposisikan sebagai alat bantu penentuan prioritas kegiatan inspeksi dan pemeliharaan preventif harian, selaras dengan kerangka manajemen pemeliharaan distribusi yang berlaku di PLN, sementara pengembangan menuju sistem peringatan dini diarahkan pada integrasi data ramalan cuaca dan kondisi aset. Kontribusi penelitian ini mencakup penyediaan tolok ukur kinerja empat keluarga model pada data gangguan nyata dengan rasio 1:354, bukti empiris bahwa model tunggal dapat mengungguli penggabungan model pada kelas positif yang sangat langka, serta penetapan uji ketahanan temporal sebagai prosedur baku penilaian kelayakan model prediksi gangguan.