Tekstur digital banyak digunakan untuk merepresentasikan permukaan material pada
berbagai bidang, seperti arsitektur, fashion, manufaktur, dan gim. Agar efisien, tekstur
idealnya bersifat seamless tileable sehingga satu gambar kecil dapat diulang untuk
menutupi area yang luas tanpa garis sambungan yang terlihat. Namun, pembuatan tekstur
secara manual membutuhkan waktu dan keahlian artistik yang tinggi. Berbagai metode
komputasi, mulai dari Image Quilting dan Graph Cuts hingga metode berbasis GAN dan
diffusion seperti SeamlessGAN dan Tiled Diffusion, masih berfokus pada grid persegi,
sedangkan penelitian sintesis tekstur berbasis AI pada grid heksagonal masih sangat
terbatas.
Arsitektur yang diusulkan memanfaatkan model inpainting pretrained dengan tekstur
masukan sebagai kondisi melalui IP Adapter. Pendekatan ini menggabungkan multi pass
inpainting dan manipulasi latent space melalui penyalinan pola heksagonal selama proses
denoising. Evaluasi dilakukan pada 602 eksperimen (43 konfigurasi × 14 tekstur)
menggunakan lima metrik, uji Wilcoxon berpasangan, analisis sensitivitas
hyperparameter, serta perbandingan dengan metode sebelumnya.
Hasil evaluasi menunjukkan nilai tileability (TexTile) meningkat dari 0,437 menjadi 0,581
secara signifikan (p = 0,030), dengan penurunan fidelitas yang masih wajar. Manipulasi
latent space terbukti menjadi komponen utama dalam meningkatkan tileability. Waktu
pembangkitan sekitar 40 detik per tekstur, jauh lebih singkat dibandingkan metode yang
memerlukan pelatihan khusus hingga sekitar 45 menit. Hasil ini menunjukkan bahwa
pendekatan yang diusulkan layak, kompetitif, dan efisien untuk menghasilkan tekstur
seamless tileable berbasis grid heksagonal.
Perpustakaan Digital ITB