digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

ABSTRAK Rila Tirta Ayudya
PUBLIC Open In Flipbook Esha Mustika Dewi

High-Density Polyethylene (HDPE) merupakan polimer termoplastik yang digunakan sebagai material utama ponton Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) terapung di Waduk Cirata karena memiliki ketahanan tinggi terhadap degradasi. Namun, kondisi perairan waduk yang kaya bahan organik akibat aktivitas keramba jaring apung (KJA), keberadaan komunitas mikroba aerobik, dan fluktuasi kondisi lingkungan berpotensi mendukung pembentukan biofilm serta terjadinya biodegradasi HDPE. Penelitian ini bertujuan (1) menentukan titik pengambilan sampel Waduk Cirata, yaitu titik Tepi, Tengah, dan keramba jaring apung (KJA), yang memiliki komunitas bakteri dan fungi aerobik dengan kemampuan biodegradasi High-Density Polyethylene (HDPE) paling baik, (2) menentukan isolat bakteri dan fungi aerobik yang dominan dalam komunitas mikroba terkultur selama proses biodegradasi HDPE. Penelitian ini dilakukan melalui uji biodegradasi HDPE skala laboratorium selama 30 hari dengan pengambilan data setiap 3 hari. Medium berupa air Waduk Cirata steril dari masing-masing titik pengambilan sampel kedalaman 0,5 m yang ditambahkan asam asetat 0,5 mM, sedangkan inokulum berupa hasil pemekatan komunitas mikroba dari sampel air yang sama (±106 CFU/mL). Analisis meliputi rata-rata laju penurunan massa kumulatif HDPE (%/hari), pH, dinamika bakteri dan fungi pada komunitas, karakterisasi morfologi permukaan HDPE, serta profil komunitas bakteri dan fungi pada fase biofilm dan planktonik menggunakan metode Total Plate Count (TPC) pada medium Reasoner’s 2A (R2A) agar untuk bakteri dan Potato Dextrose Agar (PDA) untuk fungi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa permukaan HDPE mengalami retakan halus dan penurunan ketebalan setelah inkubasi yang mengindikasikan terjadinya biodegradasi. Komunitas mikroba dari titik Tengah menunjukkan performa biodegradasi HDPE paling baik, ditandai dengan rata-rata laju penurunan massa HDPE tertinggi selama 30 hari inkubasi sebesar 0,221 ± 0,198%/hari, median laju degradasi tertinggi sebesar 0,182%/hari, serta mencapai rata-rata penurunan massa kumulatif tertinggi sebesar 0,70 ± 0,02% pada hari ke-12. Selain itu, pembentukan biofilm pada titik Tengah terjadi lebih cepat dibandingkan titik Tepi dan KJA, dengan puncak biofilm pertama pada hari ke-6 untuk fungi dan hari ke-9 untuk bakteri, kemudian diikuti oleh peningkatan laju biodegradasi HDPE pada hari ke-12 yang mengindikasikan adanya keterkaitan antara pembentukan biofilm dan proses biodegradasi. Analisis dinamika fungi dan bakteri pada komunitas terkultur menunjukkan bahwa isolat bakteri R04, R09, R15, R17, dan R53 serta isolat fungi P01 dan P02 merupakan isolat dominan dengan kemampuan untuk mendegradasi HDPE. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa komunitas mikroba aerobik perairan Waduk Cirata memiliki potensi menyebabkan biodegradasi HDPE. Komunitas mikroba dari titik Tengah menunjukkan kemampuan biodegradasi paling baik dan konsisten dibandingkan komunitas dari titik Tepi dan KJA. Dengan demikian, hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam pengembangan strategi pemantauan dan mitigasi dini terhadap potensi biodegradasi material ponton HDPE guna mendukung keberlanjutan operasional PLTS Terapung Cirata.