Perkembangan tata ruang di Kawasan Segitiga Emas Jakarta memicu dualisme morfologi ekstrem antara pembangunan komersial eksklusif dan permukiman organik pada kampung kota, sehingga menghasilkan fragmentasi perkotaan yang kompleks. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan arahan intervensi rancang kota untuk memitigasi persoalan fragmentasi dengan upaya modifikasi elemen fisik pada kawasan, yang dimulai dengan membedah kondisi fragmentasi secara komprehensif serta mengidentifikasi determinan elemen rancang kota yang memengaruhinya. Penelitian ini menggunakan metode campuran melalui tahapan terstruktur. Dimensi institusional dan simbolik dikaji secara kualitatif. Sementara itu, dimensi spasial, fungsional, dan sosio-ekonomi dilebur menjadi konsep fragmentasi sosio-spasial. Konsep ini diukur secara kuantitatif, kemudian diuji kausalitasnya terhadap enam determinan fisik morfologi menggunakan pemodelan regresi spasial skala ganda, dan pada tahap akhir ditriangulasi bersama temuan kualitatif.
Hasil pemodelan statistik mengonfirmasi bahwa besaran luas blok bertindak sebagai determinan utama yang memicu segregasi sosio-spasial, sedangkan keterhubungan jaringan jalan tidak memiliki signifikansi. Orientasi pembangunan eksklusif menciptakan fenomena permeabilitas terjebak pada batas kampung kota yang memicu jurang nilai lahan ekstrem. Kebaruan penelitian ini terletak pada penemuan sifat paradoksal dari segregasi tersebut. Keterisolasian fisik yang mengurung kampung kota layaknya komunitas berpagar informal justru berfungsi krusial sebagai perisai perlindungan morfologis yang mencegah gentrifikasi sistemik. Sebagai sumbangan terhadap keilmuan rancang kota, penelitian ini merumuskan kritik bahwa regulasi zonasi dua dimensi tidak efektif tanpa desain konektivitas tiga dimensi. Penelitian mengusulkan taktik pelunakan batas, antarmuka aktif, dan kebijakan adaptif guna menjahit kohesi perkotaan dan mewujudkan keadilan spasial.
Perpustakaan Digital ITB