digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Saat industri konstruksi berjuang selama bertahun-tahun dengan kompetisi, perkembangan, inovasi, dan peningkatan yang tak terhitung jumlahnya. Sampai pada zaman ini di mana sebagian besar perusahaan konstruksi menggunakan sistem Informasi dan Teknologi (TI) untuk mendukung bisnis mereka termasuk proses bisnis mereka. Perusahaan Konstruksi Swasta Multinasional Indonesia (IMPCC, bukan nama sebenarnya), pemain utama di industri konstruksi Indonesia juga menggunakan sistem IT untuk menggarisbawahi proses bisnis IMPCC yang terpusat di 2 Pusat Data (DC) dimana DC mengalami bencana yang merugikan mereka Banyak pada kuartal ketiga 2019, hal ini mendorong mereka untuk melakukan studi tentang Disaster Recovery Plan (DRP) untuk menghindari bencana yang sama atau risiko serupa yang menimpa sistem TI IMPCC. DRP adalah proses perencanaan, pengembangan, penerapan, dan peningkatan ketersediaan layanan IT suatu perusahaan untuk memastikan kelangsungannya dengan merencanakan, mengembangkan, dan mengimplementasikan proses dan prosedur untuk bertahan melalui ketidakpastian. Proses DRP adalah Business Impact Analysis (BIA) untuk mengidentifikasi divisi, proses bisnis, Sistem TI yang digunakan oleh mereka, prioritas, dan toleransi kehilangan data Sistem TI dan waktu gangguan. Kemudian Risk Analysis (RA), mengembangkan strategi DRP, strategi pengujian dan pelatihan, serta rencana implementasi. Dari proses analisis yang dilakukan pada penelitian ini, dari 36 ancaman yang teridentifikasi terdapat 3 ancaman yang mengatasi risiko besar DC A dan DC B berada di satu area lokasi, yang mengarah pada kesimpulan pemindahan salah satu atau kedua DC tersebut ke area lokasi yang berbeda.