digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Ekosistem rawa gambut tropis memiliki peran esensial dalam regulasi siklus hidrologi, namun sangat rentan terhadap degradasi akibat intervensi tata guna lahan yang eksploitatif. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika struktur vegetasi, tren nilai evapotranspirasi (ET), serta mengidentifikasi interaksi ekofisiologis antara tingkat kerapatan kanopi (Forest Canopy Density/FCD) dengan fluks hidrologi di Taman Nasional Sebangau (TNS) sebagai kawasan pelestarian alam dan Ex-Mega Rice Project (EMRP) sebagai kawasan terdegradasi, selama rentang periode 2013–2025. Pendekatan kuantitatif dilakukan melalui analisis data spasial citra satelit dan diuji menggunakan statistik inferensial parametrik (Korelasi Pearson, Paired Sample T-Test, One-Way ANOVA, dan Post-Hoc Tukey HSD) pada taraf signifikansi 5% (? = 0,05). Hasil penelitian memperlihatkan divergensi trayektori ekologis yang ekstrem. TNS menunjukkan stabilitas dan daya lenting lanskap yang tinggi, didominasi oleh Hutan Rawa Gambut (>80%) dengan FCD tinggi (77–82%) yang menghasilkan fluks ET superior dan stabil (4,149–4,494 mm/hari). Sebaliknya, EMRP terfragmentasi parah akibat kegagalan suksesi alami yang didominasi oleh Semak Belukar (32%) dan Perkebunan Sawit (31%), menghasilkan FCD moderat (63–72%) dan fluks ET yang lebih rendah (3,374–4,114 mm/hari). Hasil uji beda menyatakan bahwa perubahan tutupan lahan mendikte nilai neraca air secara signifikan (p < 0,05), di mana Lahan Terbuka mengalami defisit transpirasi paling kritis. Analisis korelasi membuktikan adanya hubungan linear positif yang sangat kuat (r = 0,880) antara kerapatan tajuk dan nilai ET. Disimpulkan bahwa arsitektur tajuk di atas permukaan tanah bertindak sebagai regulator mutlak sirkulasi tata air gambut. Temuan ini merekomendasikan bahwa rekayasa restorasi hidrologi di lanskap terdegradasi wajib diintegrasikan dengan revegetasi struktural masif guna memulihkan mesin pompa biologis ekosistem.