Revitalisasi Kawasan Olahraga Gelora Bung Karno (GBK) pada tahun 2018 telah mentransformasi fasilitas olahraga ini menjadi ruang publik urban berskala masif di Jakarta. Namun, peningkatan infrastruktur fisik tidak selalu berbanding lurus dengan pemerataan akses secara sosial, memunculkan kesenjangan antara ketersediaan fasilitas dan keleluasaan pengguna dari berbagai latar belakang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi persepsi pengguna terhadap tingkat inklusivitas GBK pasca-revitalisasi serta mengidentifikasi mekanisme pembentukan pengalaman yang terjalin dari interaksi antara pengguna dan ruang fisik. Menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif, penelitian ini mengintegrasikan analisis konten tematik dari narasi pengguna, pemetaan deskriptif, dan triangulasi statistik berskala makro terhadap data persepsi dari 108 responden usia produktif. Hasil analisis mengungkap bahwa pengalaman inklusivitas di GBK beroperasi dalam tiga lapisan hierarkis yaitu Infrastruktur Dasar, Kesetaraan Akses, dan Kenyamanan Psikologis. Di balik skor persepsi penerimaan sosial yang tinggi, ditemukan empat kondisi pembatas berupa kualitas akses masuk, keterjangkauan layanan komersial, dinamika penyelenggaraan acara, dan tingkat keakraban kawasan, yang secara halus menciptakan diferensiasi pengalaman bagi kelompok tertentu. Temuan ini merumuskan konsep inti Inklusivitas Bersyarat (Conditional Inclusivity), di mana hak publik atas ruang tetap terfasilitasi secara formal, namun keleluasaan beraktivitas dan terbentuknya rasa memiliki (sense of belonging) masih tertahan oleh faktor tata kelola ekonomi dan mobilitas. Sebagai kontribusi praktis, penelitian ini merumuskan sepuluh kriteria desain untuk mengoptimalkan keadilan dan pengalaman keruangan pada kawasan olahraga multifungsi pasca-revitalisasi.
Perpustakaan Digital ITB