digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Pelabuhan Penumpang Muara Angke saat ini semakin padat dan diproyeksikan tidak lagi mampu menampung lonjakan penumpang maupun kapal penyeberangan di masa depan. Oleh karena itu, Tugas Akhir ini bertujuan untuk merencanakan tata letak (layout) pengembangan pelabuhan yang baru serta merancang bangunan pemecah gelombang (breakwater) agar kapal dapat bersandar dengan aman, lengkap dengan perkiraan biayanya. Kondisi laut dianalisis menggunakan data gelombang reanalysis WAVERYS, yang dipilih untuk digunakan setelah dibandingkan dengan hasil peramalan (hindcasting) data angin. Hasilnya menunjukkan potensi gelombang ekstrem setinggi 2,98 m di laut lepas. Pemodelan Delft3D pada area pelabuhan membuktikan bahwa lokasi pengembangan masih rawan terhantam gelombang setinggi 0,70–1,10 m, sehingga pembangunan pelindung breakwater mutlak diperlukan. Berdasarkan perhitungan operasional, pelabuhan ini membutuhkan tambahan 21 tempat sandar kapal (berth) pada tahun 2040. Dari hasil evaluasi berbagai kriteria, area sisi luar barat pelabuhan eksisting terpilih sebagai lokasi pengembangan terbaik (skor 2,00). Untuk melindungi area tersebut, dirancang struktur breakwater tumpukan batu dengan tinggi puncak +3,635 m dari muka air terendah. Bangunan ini dilindungi oleh pelindung beton berkaki empat (tetrapod) seberat 709 kg hingga 1031 kg di lapisan terluarnya, yang didukung oleh lapisan batu penyaring (70,9–103,1 kg) dan lapisan inti (3,54–5,15 kg) di bagian dalam. Total biaya konstruksi yang dibutuhkan untuk membangun breakwater sepanjang 180 meter ini diperkirakan mencapai Rp40.355.493.000,00. Kajian ini diharapkan dapat menjadi panduan awal untuk membangun Pelabuhan Muara Angke yang lebih aman, tenang, dan efisien.