Gerusan lokal pada pilar jembatan merupakan salah satu penyebab utama
kegagalan struktural jembatan di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia,
sebagaimana ditunjukkan oleh beberapa kasus kerusakan jembatan akibat gerusan
pada musim banjir di Indonesia. Metode empiris HEC-18 (Hydraulic Engineering
Circular No. 18) yang selama ini umum digunakan diketahui cenderung
overestimasi hingga 30–40% pada kondisi tertentu, khususnya live-bed scour dan
bilangan Froude tinggi, sehingga berpotensi menimbulkan inefisiensi biaya
konstruksi. Penelitian ini bertujuan membandingkan akurasi prediksi kedalaman
gerusan lokal pilar berpenampang lingkaran antara HEC-18 dan lima algoritma
Machine Learning (Artificial Neural Network, Support Vector Regression,
Random Forest, Gradient Boosting Machine, dan Linear Regression) berbasis 407
data sekunder hasil eksperimen laboratorium dari basis data gerusan pilar
internasional, yang dibagi menjadi 327 data latih dan 82 data uji. Evaluasi
menggunakan metrik RMSE, MAE, R², NSE, PBIAS, dan RSR, uji signifikansi
statistik (paired t-test, Wilcoxon, dan Diebold-Mariano), analisis interpretabilitas
(SHAP, PDP, ICE, two-way PDP), serta simulasi gerusan temporal berbasis
pendekatan kuasi-tunak pada hidrograf banjir sintetis menggunakan model terbaik.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa HEC-18 menghasilkan overestimasi pada
90.2% data uji (RMSE = 0.254 ft, R² = 0.795, PBIAS = ?32.59%), dengan deviasi
terbesar pada kondisi Froude tinggi (Fr ? 0.8, R² = ?1.206) dan live-bed scour
(98.0% overestimasi), yang dikonfirmasi bersifat sistematis secara fisik melalui
karakterisasi Diagram Shields. XGBoost terbukti sebagai model dengan akurasi
tertinggi (R² = 0.975, RMSE = 0.088 ft, PBIAS = ?3.53%; bootstrap 95% CI R² =
[0.890; 0.993]), diikuti ANN, RF, SVR, dan LR, dengan reduksi RMSE terhadap
HEC-18 mencapai 65.4% dan keunggulan signifikan secara statistik (p < 0.001),
jauh lebih andal dibandingkan CI HEC-18 yang mencapai [0.246; 0.891]. Analisis
SHAP mengidentifikasi lebar pilar sebagai variabel paling dominan, dengan
konsistensi arah pengaruh sesuai teori hidraulika pada 8 dari 9 variabel input.
Evaluasi sub-kelompok data menunjukkan HEC-18 tetap kompetitif pada kondisi
clear-water dengan Fr < 0.8, sementara model ML memberikan perbaikan
signifikan pada kondisi live-bed dan Fr tinggi, dengan rentang interpolasi valid
ii
meliputi lebar pilar 0.052–3.002 ft, kedalaman aliran 0.066–6.234 ft, kecepatan
aliran 0.490–7.080 ft/s, dan bilangan Froude 0.068–1.498.
Pada tahap simulasi temporal, pendekatan kuasi-tunak berbasis XGBoost
diterapkan pada hidrograf banjir sintetis berdurasi 151 jam yang hidraulikanya
diverifikasi terlebih dahulu terhadap HEC-RAS (R² > 0.99). Seluruh durasi
hidrograf berlangsung dalam kondisi clear-water, dengan kedalaman gerusan
desain XGBoost sebesar 1.313 m (basis Manning) hingga 1.379 m (basis HECRAS
model ber-pilar), lebih akurat terhadap data observasi laboratorium acuan
(error ?6.9% hingga ?2.2%) dibandingkan HEC-18 (error ?17.9%), serta
dinyatakan TERVALIDASI (selisih ?10%) dengan efisiensi komputasi ±2000 kali
lebih cepat dibandingkan simulasi HEC-RAS penuh. Model XGBoost juga
mengungkap pola respons non-linear terhadap rasio V/Vc, berbeda dari HEC-18
yang memprediksi peningkatan gerusan secara monoton dan linear. Untuk
mengantisipasi risiko underestimasi pada kondisi live-bed, direkomendasikan
penerapan faktor keamanan K_safety = 1.09 (setara persentil ke-95, Under-
Prediction Rate ?5%) pada prediksi XGBoost sebelum digunakan sebagai
kedalaman desain akhir.
Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi evaluasi komparatif stasioner
dengan skema simulasi kuasi-tunak temporal yang divalidasi silang terhadap
pemodelan hidraulika numerik penuh, pendekatan yang belum banyak
dieksplorasi pada studi gerusan pilar jembatan berbasis data sekunder. Penelitian
ini menyimpulkan bahwa model Machine Learning, khususnya XGBoost, secara
signifikan mengungguli HEC-18 dalam akurasi dan konsistensi fisik prediksi
gerusan lokal pilar jembatan berpenampang lingkaran, sehingga
direkomendasikan pendekatan hybrid (HEC-18 sebagai batas atas konservatif,
XGBoost sebagai estimasi optimal) untuk mendukung revisi pedoman desain
jembatan di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB