digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Banjir merupakan salah satu bencana hidrometeorologi yang berulang terjadi di Kota Ambon, salah satunya pada Daerah Aliran Sungai (DAS) Wae Batu Merah. Karakteristik DAS yang relatif pendek dan memiliki kemiringan lereng yang curam menyebabkan respons hidrologi terhadap kejadian hujan berlangsung cepat. Selain itu, perkembangan kawasan permukiman, penyempitan penampang sungai, serta keterbatasan kapasitas alur sungai dapat meningkatkan potensi terjadinya limpasan dan genangan pada wilayah hilir. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ancaman, kerentanan, kapasitas, dan risiko banjir serta mengevaluasi efektivitas skenario pengendalian banjir pada DAS Wae Batu Merah, Kota Ambon. Analisis hidrologi dilakukan sesuai SNI 2415:2016 menggunakan perangkat lunak HEC-HMS untuk memperoleh debit banjir rencana. Data curah hujan observasi dan data satelit Global Precipitation Measurement (GPM) dianalisis dan diuji konsistensi, independensi, kestabilan, serta abnormalitasnya sebelum digunakan dalam analisis hidrologi. Pemodelan hidraulika dilakukan menggunakan HEC-RAS 1D dan 2D, dengan debit banjir kala ulang 25 tahun (Q25) sebagai debit utama pemodelan 2D. Analisis risiko banjir mengacu pada Peraturan Kepala BNPB Nomor 2 Tahun 2012 dengan mempertimbangkan komponen ancaman, kerentanan sosial, ekonomi, fisik, lingkungan, dan kapasitas. Evaluasi pengendalian dilakukan melalui tiga kondisi pemodelan, yaitu kondisi eksisting, normalisasi sungai, serta kombinasi normalisasi dan parapet. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa debit banjir Q25 sebesar 187,2 m³/s berpotensi menyebabkan genangan pada Negeri Batu Merah, Kelurahan Amantelu, Kelurahan Rijali, dan Kelurahan Waihoka. Pada kondisi eksisting, luas genangan total mencapai 0,303496 km². Berdasarkan distribusi kedalaman genangan, tingkat ancaman banjir berada pada kategori tinggi di Amantelu, Batu Merah, dan Waihoka, sedangkan Rijali berada pada kategori sedang. Hasil analisis kerentanan menunjukkan bahwa Negeri Batu Merah memiliki tingkat kerentanan tinggi dengan indeks 0,670, sedangkan Amantelu, Rijali, dan Waihoka berada pada kategori sedang. Indeks kapasitas pada seluruh wilayah kajian sebesar 0,620 dengan kategori sedang, sehingga berdasarkan kombinasi ancaman, kerentanan, dan kapasitas, tingkat risiko banjir pada seluruh wilayah kajian berada pada kategori sedang. Hasil evaluasi skenario pengendalian menunjukkan bahwa normalisasi sungai mampu mengurangi luas genangan dari 0,303496 km² menjadi 0,277403 km² atau sebesar 8,6%. Sementara itu, kombinasi normalisasi dan parapet/tanggul mampu mengurangi luas genangan menjadi 0,164280 km² atau sebesar 45,9% dibandingkan kondisi eksisting. Secara hidraulika, normalisasi meningkatkan kapasitas penampang dalam mengalirkan debit banjir, sedangkan parapet berfungsi membatasi limpasan lateral dengan mempertahankan aliran tetap berada dalam penampang sungai. Kecepatan aliran maksimum meningkat dari sekitar 1,68 m/s pada kondisi eksisting menjadi sekitar 1,92 m/s setelah normalisasi. Meskipun demikian, genangan masih ditemukan pada beberapa lokasi dengan elevasi relatif rendah, terutama di bagian hilir DAS. Sebagai upaya pengendalian nonstruktural, penelitian ini juga merencanakan Early Warning System (EWS) secara konseptual untuk mendukung kesiapsiagaan terhadap potensi banjir. Sistem EWS direncanakan berdasarkan pemantauan curah hujan, tinggi muka air, debit sungai, laju kenaikan tinggi muka air, kedalaman genangan, dan waktu rambat, yang selanjutnya digunakan sebagai dasar pemberian peringatan dini kepada masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian, kombinasi normalisasi dan parapet dapat menjadi bagian dari upaya pengendalian struktural untuk mengurangi genangan, sedangkan penerapan EWS secara konseptual dapat mendukung peningkatan kesiapsiagaan dan pengurangan risiko banjir pada DAS Wae Batu Merah.