digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PT. Dirgantara Indonesia (DI) memiliki divisi yang menangani proses produksi part pesawat secara rutin yaitu divisi detail part machining (DPM). Berdasarkan data milik PT DI, reject rate yang dihasilkan DPM pada 3 tahun terakhir berada di atas target yang ditetapkan yaitu 0,5%. Maka dari itu dilakukan penelitian lebih lanjut terhadap salah satu area yang berkontribusi dalam pemberian reject rate tersebut yaitu area mesin bubut. Penelitian ini mengusulkan metodologi six sigma dengan pendekatan DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, Control) untuk mengelaborasi perbaikan pada area mesin bubut. Pada tahap define ditentukan jenis cacat part yang perlu diselesaikan. Pada tahap measure dilakukan pengukuran stabilitas proses dengan membuat peta kendali dan pengukuran kapabilitas proses dengan menghitung nilai sigma. Pada tahap analyze dilakukan analisis penentuan akar masalah dengan menggunakan cause and effect diagram,5 whys dan analisis FMEA (Failure Mode & Effect Analysis). Pada tahap improve, dilakukan penentuan usulan solusi dari akar masalah yang ditemukan. Pada tahap control dilakukan penentuan metode untuk mempertahankan usulan solusi. Jenis cacat yang perlu diselesaikan adalah undersize dan damaged. Kemudian, hasil pada tahap measure yaitu proses mesin bubut tergolong stabil dan kapabilitas yang didapat sebesar 3,38 sigma. Kemudian, dari hasil analisis ditemukan akar masalah yaitu 1) belum dibuatkan tabel penggunaan cutting condition, 2) belum menerapkan alat ukur lain sebagai pembanding, 3) belum diterapkan metode pengecekan cutting tool sebelum digunakan, 4) belum dibuatkan panduan khusus mesin agar operator dapat menjalakan mesin dengan benar, dan 5) belum ada standar metode setting & media pengecekan setelah selesai setting. Kemudian, usulan solusi untuk akar masalah tersebut adalah 1) pembuatan tabel cutting condition, 2) tabel penggunaan alat ukur, dan 3) Standar Operasional Prosedur (SOP) mesin bubut.