digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

PERANCANGAN UNIT PENGOLAHAN LUMPUR TERINTEGRASI UNTUK LUMPUR IPAL DOMESTIK TERPUSAT KAYU MANIS DAN IPLT KOTA BOGOR
Terbatas  Maman Ruhiman
» Gedung UPT Perpustakaan

Capaian akses sanitasi layak di Kota Bogor hingga tahun 2025 tercatat sebesar 78,4%, masih berada di bawah target RPJMN 2025–2029. Dari total tersebut, proporsi penduduk yang telah memiliki akses terhadap sanitasi aman baru mencapai 6,2%, sedangkan 19,5% penduduk masih memiliki akses terhadap sanitasi yang belum layak. Kondisi tersebut menjadi salah satu dasar perencanaan sistem pengolahan lumpur terintegrasi pada Sistem Pengelolaan Air Limbah Domestik Terpusat (SPALDT) Kayumanis, Kota Bogor, yang mengintegrasikan pengolahan lumpur dari Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) domestik terpusat dan Instalasi Pengolahan Lumpur Tinja (IPLT) dalam satu rangkaian pengolahan. Perencanaan ini juga mempertimbangkan penyusutan luas lahan dari 4,6 ha pada studi Basic Engineering Design (BED) tahun 2018 menjadi 2,2 ha, serta penyesuaian terhadap ketentuan baku mutu berdasarkan Permen LH Nomor 11 Tahun 2025. Sumber lumpur yang diolah terdiri atas lumpur tinja (fecal sludge) hasil penyedotan tangki septik, primary sludge dari unit sedimentasi primer, dan waste activated sludge dari unit sedimentasi sekunder. Pada akhir periode perencanaan (2050), debit lumpur diproyeksikan mencapai 815,61 m³/hari pada kondisi maksimum dan 502,62 m³/hari pada kondisi rata-rata. Periode perencanaan disusun selama 20 tahun, yang dibagi menjadi Tahap 1 (2031–2040) dan Tahap 2 (2041–2050). Berdasarkan hasil evaluasi beberapa alternatif teknologi, rangkaian unit yang dipilih meliputi Screen dan Grit Chamber sebagai pretreatment, Sludge Blending Tank, Gravity Thickener, High Rate Anaerobic Digester, dan Belt Filter Press. Pemilihan unit didasarkan pada aspek teknis, keterbatasan lahan, kemudahan operasi, serta biaya investasi dan operasional. Selain itu, biogas yang dihasilkan dari proses anaerobic digestion dimanfaatkan sebagai sumber energi listrik untuk mendukung operasional fasilitas. Dengan desain unit sebagai berikut; Screen dan Grit Chamber (Sludge Acceptance Plant) menggunakan 2 unit HUBER ROTAMAT Ro3.3 dengan kapasitas 27 L/s, dimana 1 unit difungsikan sebagai unit cadangan. Sludge Blending Tank dirancang dengan diameter 7 m dan kedalaman total 4,5 m sebanyak 2 unit. Gravity Thickener dirancang berdiameter 13 m dengan kedalaman total 6,5 m, menggunakan 2 unit pada tahap 1 dan 3 unit pada tahap 2. High Rate Anaerobic Digester dirancang berdiameter 17 m dan tinggi 13 m, menghasilkan biogas sebesar 1.500 m³/hari, dengan jumlah 2 unit pada tahap 1 dan 3 unit pada tahap 2. Selanjutnya, Sludge Holding Tank dirancang berdiameter 8 m dengan kedalaman total 3,5 m sebanyak 2 unit, dimana 1 unit berfungsi sebagai cadangan. Tahap dewatering menggunakan Belt Filter Press dengan lebar belt 2 m yang beroperasi selama 8 jam/hari, membutuhkan polimer sebesar 0,8 m³/jam, menggunakan 2 unit, serta menghasilkan kebutuhan pengangkutan lumpur sebanyak 3 truk per hari. Analisis menunjukkan biaya investasi awal (CAPEX) sebesar Rp26.553.437.000, dengan biaya operasional (OPEX) tahap 1 Rp206.146.025/bulan dan tahap 2 Rp269.074.025/bulan. Kelayakan finansial menunjukkan proyek layak dijalankan, dengan NPV Rp20.613.530.612, BCR 1,71, IRR 12%, dan payback period 7,98 tahun. Desain ini diharapkan menjadi acuan teknis pengelolaan lumpur IPAL-IPLT terpadu untuk mendukung sanitasi aman dan berkelanjutan di Kota Bogor.