ABSTRAK Malikah Kautsar 'Ilmi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Malikah Kautsar 'Ilmi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Malikah Kautsar 'Ilmi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Malikah Kautsar 'Ilmi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Malikah Kautsar 'Ilmi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Malikah Kautsar 'Ilmi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Malikah Kautsar 'Ilmi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Malikah Kautsar 'Ilmi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Malikah Kautsar 'Ilmi
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Fenomena Urban Heat Island (UHI) menjadi salah satu permasalahan kawasan
perkotaan yang dipengaruhi oleh tingginya intensitas bangunan, dominasi material
penyerap panas, keterbatasan ruang terbuka hijau, serta tingginya aktivitas manusia.
Kawasan Terpadu Karet Tengsin Platinum sebagai bagian dari kawasan strategis
Segitiga Emas Jakarta memiliki potensi peningkatan panas kawasan sehingga
diperlukan perancangan ulang berbasis urban cooling. Penelitian ini bertujuan
untuk merancang ulang Kawasan Terpadu Karet Tengsin Platinum berbasis urban
cooling dalam upaya mitigasi UHI melalui pemodelan tiga dimensi. Metode yang
digunakan adalah pendekatan deskriptif-evaluatif dengan teknik pengumpulan data
melalui kajian literatur, observasi, kuesioner, citra satelit, dan dokumen PRK.
Penilaian dilakukan menggunakan teknik pseudo-evaluation terhadap 23 indikator
yang mencakup fitur hijau, fitur biru, fitur abu, shading, geometri kota dan guna
lahan, serta energi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketercapaian prinsip urban
cooling pada kondisi eksisting sebesar 34,78% atau 8 dari 23 indikator, kemudian
meningkat menjadi 78,26% atau 18 indikator setelah rancangan ulang. Peningkatan
tersebut dilakukan melalui penambahan RTH, penambahan fitur biru, penggunaan
material beralbedo tinggi dan permeabel, penambahan elemen peneduh, penerapan
green roof, cool roof, secondary skin, vertical greenery, serta penguatan
konektivitas pejalan kaki dan transportasi publik. Meskipun demikian, beberapa
indikator geometri kota tetap belum tercapai karena kawasan telah banyak
terbangun. Penelitian ini memberikan kontribusi berupa arahan desain kawasan
terpadu yang lebih adaptif terhadap panas perkotaan dan dapat menjadi masukan
dalam penerapan prinsip urban cooling untuk mitigasi UHI.
Perpustakaan Digital ITB