digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Kesehatan mental menjadi isu yang semakin penting di kawasan perkotaan akibat tingginya tingkat stress masyarakat. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa ruang terbuka hijau memiliki peran penting dalam nmendukung kesehatan mental. Salah satu pendekatan yang dikembangkan untuk menilai kualitas lanskap yang mendukung kesehatan mental adalah Contemplative Landscape Model (Olszewska, 2023). Model ini mengevaluasi kualitas kontemplatif lanskap berdasarkan tujuh elemen utama yaitu : layers of the landscape (1), landform (2), biodiversity (3), color & light (4), compatibility (5), archetypal elements (6), serta character of peace & silence (7). Jakarta sebagai kota metropolitan terbesar di Indonesia dipilih sebagai konteks penelitian. Melalui kuesioner analisis pra-asesmen pada beberapa kota, Taman Suropati di Jakarta Pusat ditetapkan sebagai lokasi studi. Evaluasi CLM dilakukan pada 31 titik pengamatan yang tersebar di dalam taman. Hasil penilaian menunjukkan bahwa Taman Suropati berada pada kategori sedang, yang mengindikasikan bahwa taman memiliki potensi kontemplatif namun belum optimal dalam mendukung kesehatan mental pengunjung. Validasi eksploratif melalui kuesioner juga dilakukan untuk memperoleh perspektif pengguna terhadap kualitas ruang taman. Hasilnya menunjukkan bahwa kekuatan utama Taman Suropati terletak pada elemen archetypal elements, sementara beberapa elemen lain masih memiliki peluang untuk ditingkatkan. Sebagai taman kota yang berada di kawasan cagar budaya, pengembangan Taman Suropati memiliki sejumlah keterbatasan, terutama terkait elemen bentuk lahan (landform) dan struktur lanskap eksisting. Oleh karena itu, intervensi desain difokuskan pada elemen CLM yang masih dapat dikembangkan tanpa mengubah karakter utama taman. Proses perancangan menggunakan scene-based method, yaitu pendekatan yang berangkat dari persepsi visual pengguna pada berbagai titik pandang dan kemudian ditransformasikan ke dalam rencana tapak. Analisis spasial dilakukan untuk menentukan anchor point sebagai titik awal perancangan. Titik-titik dengan potensi skor CLM tinggi dikembangkan sebagai main contemplative nodes, sedangkan titik dengan potensi sedang hingga tinggi dikembangkan sebagai secondary contemplative nodes. Selanjutnya, seluruh node dihubungkan melalui rangkaian contemplative sequence untuk menciptakan pengalaman ruang yang mendukung refleksi, relaksasi, dan keterhubungan dengan alam. Hasil perancangan menunjukkan bahwa pendekatan CLM dapat diterapkan sebagai kerangka desain dalam pengembangan taman kota untuk meningkatkan kualitas kontemplatif ruang dan mendukung kesehatan mental masyarakat tanpa mengubah struktur utama taman yang telah ada.