Proses pengeringan merupakan salah satu tahapan penting dalam pengolahan kopi yang membutuhkan energi panas untuk menurunkan kadar air hingga mencapai kondisi yang sesuai untuk penyimpanan. Pemanfaatan panas waste brine dari Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dapat menjadi alternatif sumber energi pengeringan sekaligus meningkatkan pemanfaatan energi panas bumi melalui konsep direct use. Penelitian ini bertujuan merancang sistem pengering kopi dengan memanfaatkan waste brine dari Lapangan Panas Bumi Wayang Windu sebagai sumber panas serta mengevaluasi kinerja termal, proses pengeringan, dan kelayakan ekonominya. Perancangan dilakukan dengan menentukan sistem penyaluran brine, penukar panas tipe finned tube, dan sistem penyediaan udara pengering. Distribusi aliran udara di dalam tray dryer dianalisis menggunakan Computational Fluid Dynamics (CFD), sedangkan proses perpindahan massa air dari kopi dimodelkan menggunakan hukum Fick dengan parameter effective moisture diffusivity (????eff). Hasil perancangan menunjukkan bahwa sistem penyaluran brine menggunakan pipa NPS 2 inci Schedule 80 dengan laju aliran 1,5 kg/s, sedangkan penukar panas memiliki kapasitas perpindahan panas sebesar 54 kW. Sistem pengering menghasilkan laju aliran udara sebesar 1,862 kg/s dengan kecepatan rata-rata udara sebesar 1,133 m/s pada troli pertama dan 0,898 m/s pada troli kedua. Perbedaan distribusi aliran udara tersebut menghasilkan waktu pengeringan yang berbeda, yaitu 20,49 jam pada troli pertama dan 23,34 jam pada troli kedua. Berdasarkan analisis ekonomi, sistem menghasilkan incremental net profit sebesar Rp 206.752.205,10 per tahun untuk kopi kualitas reguler. Evaluasi kelayakan investasi selanjutnya dilakukan menggunakan Payback Period (PBP), Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR) untuk menilai kelayakan penerapan sistem pengering berbasis waste brine geothermal.
Perpustakaan Digital ITB