Tingkat konsumsi sayur dan buah masyarakat Indonesia saat ini masih berada di bawah rekomendasi WHO. Di sisi lain, komoditas hortikultura bernilai ekonomi tinggi seperti tomat ceri mengalami kendala serius berupa tingginya angka penumpukan kehilangan hasil (food loss and waste). Karakteristik tomat ceri sebagai sayuran klimakterik menyebabkannya mudah rusak dengan umur simpan yang sangat pendek, yaitu hanya sekitar 5–7 hari pada suhu ruang. Oleh karena itu, dokumen ini merancang sebuah sistem pascapanen berbasis teknologi edible coating sebagai solusi yang berkelanjutan dan ramah lingkungan untuk mempertahankan mutu serta memperpanjang masa simpan produk. Inovasi yang dipilih dalam perancangan ini adalah penggunaan kombinasi formulasi gel lidah buaya 2% dan kitosan 2%. Sistem pascapanen yang dirancang mengadopsi model business-to-business (B2B), di mana bahan baku diperoleh langsung dari kelompok tani di daerah Lembang dan produk akhir dipasarkan ke ritel modern di wilayah Bandung. Alur proses produksi skala pilot plant ini meliputi tahap penerimaan bahan baku, sortasi, grading, pencucian, pengeringan, pembuatan larutan edible coating, aplikasi edible coating dengan metode semprot, pengeringan lapisan, pengemasan primer menggunakan mika plastik PET 250 gram, pelabelan, penyimpanan, hingga distribusi. Kapasitas produksi yang direncanakan sebesar 240 kg/minggu atau setara dengan 45.504 kemasan per tahun. Perancangan ini diproyeksikan mampu menghasilkan penjualan bersih sebesar Rp819.072.000 per tahun, nilai Gross Profit Margin (GPM) sebesar 16,95%, Net Present Value (NPV) sebesar Rp308.898.540,26, Profitability Index (PI) dan Net Benefit-Cost (Net B/C) sebesar 1,41, Payback Period (PP) dalam waktu 4,13 tahun, serta Internal Rate of Return (IRR) sebesar 19,98%.
Perpustakaan Digital ITB