FAO (2014) memperkirakan bahwa sekitar 1,3 miliar ton makanan terbuang sia-sia. Jumlah tersebut merupakan 1/3 dari total produksi pangan global tiap tahunnya. menjadikan Food Loss and Waste (FLW) tantangan serius dalam sistem pangan global di tengah meningkatnya kebutuhan pangan akibat pertumbuhan penduduk. Di Indonesia, kehilangan pascapanen umumnya terjadi pada tahap distribusi hingga penyimpanan, dan salah satu faktor penting yang sering luput dari perhatian dalam menekan FLW adalah pengemasan pangan, padahal tahap ini berperan strategis dalam melindungi makanan, memperpanjang umur simpan, serta menjaga mutu dan efisiensi distribusi. Namun, kemasan pangan saat ini masih didominasi oleh plastik konvensional, yang menyumbang 17,7% dari total sampah nasional, dengan 88% industri pangan lokal masih mengandalkan material ini sebagai kemasan primer. Kondisi ini mendorong kebutuhan akan kemasan pangan yang biodegradable, fungsional, dan mampu menjaga kualitas produk. Oleh karena itu, dalam perancangan ini dikembangkan industri bioplastik wrap berbasis komposit kitosan dan selulosa nanofibril (CNF) yang diisolasi dari sabut kelapa, limbah samping industri kelapa yang melimpah namun belum dimanfaatkan secara optimal di Kabupaten Pangandaran, Jawa Barat. Kombinasi kitosan dan CNF dipilih karena menghasilkan bioplastik dengan kekuatan mekanik dan sifat barrier yang baik, sekaligus mendukung ekonomi sirkular melalui pemanfaatan limbah sabut kelapa.
Perancangan ini bertujuan menentukan kapasitas produksi per batch, menyusun Standard Operating Procedure (SOP) produksi bioplastik wrap berkualitas, serta mengevaluasi kelayakan bisnis melalui analisis finansial. Pabrik dilengkapi alat Stainless Steel Mixing Tank berkapasitas operasi efektif 29.000 L/batch dengan total produksi 6 hari/minggu. Produksi CNF akan dilaksanakan 1 kali/minggu, kemudian produksi bioplastik akan dilaksanakan 10 batch/minggu. Setiap batch menghasilkan produk akhir 1.933 roll/batch dengan spesifikasi lebar 20 cm dan panjang 500 m per roll, ketebalan 0,01 mm, untuk aplikasi wrapping pangan. Produk dipasarkan melalui skema business-to-business (B2B) kepada industri pengolahan pangan, UMKM, ritel modern, dan sektor HORECA, serta business-to-consumer (B2C) kepada pelaku usaha skala kecil dan rumah tangga, dengan harga jual Rp80.000/roll.
Hasil analisis kelayakan finansial selama sepuluh tahun proyeksi dengan discount rate 15% menunjukkan Net Present Value (NPV) sebesar Rp28.856.611.115,87, Internal Rate of Return (IRR) sebesar 27%, Payback Period (PP) selama 3,38 tahun (sekitar 3 tahun 4 bulan), Benefit-Cost Ratio (BCR) sebesar 1,08, dan Return on Investment (ROI) sebesar 18,60%. Kelima indikator tersebut menunjukkan bahwa bisnis bioplastik wrap kitosan-CNF ini layak dijalankan secara finansial. Selain
memberikan keuntungan ekonomi yang kompetitif, industri ini diharapkan mendukung implementasi SDGs 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur), SGDs 12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), membuka nilai tambah bagi petani kelapa lokal, serta berkontribusi terhadap pengurangan limbah plastik konvensional di Indonesia
Perpustakaan Digital ITB