Penurunan temperatur fluida pada kondisi produksi rendah dan shutdown merupakan tantangan utama flow assurance pada jaringan pipa bawah laut lapangan minyak waxy karena meningkatkan risiko presipitasi wax dan pipeline plugging. Penelitian ini mengevaluasi karakteristik termal jaringan pipa bawah laut KARMILA-KRISNA-CINTA serta menentukan kebutuhan inline heater berdasarkan simulasi kondisi operasi aktual. Analisis dilakukan menggunakan fluid model terkalibrasi dan pipeline integrated model di OLGA, kemudian dilanjutkan dengan evaluasi Pipeline Operating Envelope serta perhitungan kebutuhan heat duty menggunakan Aspen HYSYS.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penurunan jumlah sumur Karmila-A yang beroperasi menyebabkan temperatur fluida menurun secara progresif di seluruh jaringan pipa. Pada segmen KARA-TITA, temperatur fluida pada kondisi dua hingga tiga sumur aktif masih berada di atas WAT sebesar 139°F dan pour point 118°F yang merepresentasikan karakteristik fluida pada segmen tersebut, sedangkan kondisi satu sumur aktif hingga full shutdown menyebabkan temperatur turun di bawah pour point. Evaluasi pada segmen lainnya menggunakan nilai WAT hasil Fluid Modelling yang disesuaikan dengan karakteristik fluida masing-masing sistem, termasuk WAT sebesar 141.8°F pada sistem KRIP-CINP, dan menunjukkan bahwa beberapa skenario operasi telah memasuki kondisi unsafe. Berdasarkan hasil tersebut, analisis sensitivitas menunjukkan bahwa temperatur output inline heater sebesar 125°F dengan kebutuhan daya sekitar 665 kW diperlukan untuk mempertahankan Pipeline Operating Envelope pada zona aman.
Penelitian ini menghasilkan pendekatan terintegrasi yang menerjemahkan hasil evaluasi Pipeline Operating Envelope menjadi kebutuhan inline heater secara kuantitatif, sehingga mendukung perancangan strategi flow assurance pada jaringan pipa bawah laut lapangan minyak waxy.
Perpustakaan Digital ITB