digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak_Bardah Afwillah
PUBLIC Open In Flipbook Perpustakaan Prodi Arsitektur

Kawasan Cagar Budaya (KCB) Kotabaru Yogyakarta merupakan pusat aktivitas beridentitas Garden City yang kini mengalami dinamika perkembangan fungsi ruang. Transformasi tersebut memicu berbagai persoalan spasial pada ruang terbuka publik, khususnya di sekitar simpul Stadion Kridosono dan koridor sekitarnya. Permasalahan utama meliputi belum optimalnya pemanfaatan stadion sebagai ruang terbuka publik inti, konflik kebutuhan ruang antara area publik dan permukiman, alih fungsi ruang hijau menjadi lahan terbangun, tingginya dominasi kendaraan, serta jaringan jalur pejalan kaki yang belum terintegrasi. Oleh karena itu, diperlukan strategi penataan ulang untuk mengoptimalkan kawasan tersebut sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) sekaligus pusat aktivitas komunal. Perancangan ini menerapkan pendekatan infrastruktur hijau untuk menempatkan RTH sebagai inti pengembangan kawasan. Melalui fragmental process sebagai metode perancangan, studi ini mengintegrasikan analisis deskriptif dan perhitungan Indeks Hijau-Biru Indonesia (IHBI). Data dikumpulkan melalui observasi lapangan, digitasi citra satelit, dan kompilasi data sekunder. Sebagai respons desain, diterapkan empat prinsip utama: activate the public realm, historic identity, enhancing green infrastructure, dan seamless connectivity. Strategi perancangan diwujudkan melalui pemertahanan struktur ruang eksisting, rekonfigurasi jaringan sirkulasi kendaraan dan pedestrian, optimalisasi Stadion Kridosono sebagai simpul utama, penciptaan koridor jalan yang aktif, serta pengintegrasian elemen hijau. Strategi tersebut disimulasikan pada Stadion Kridosono dan tiga koridor utama, yaitu Jalan Suroto, Jalan Yos Sudarso, dan Jalan Lempuyangan. Simulasi ini menghasilkan rancangan aksis ruang terbuka yang menerus dan berpusat di Kridosono. Melalui penerapan infrastruktur hijau, perhitungan IHBI menunjukkan peningkatan persentase RTH di KCB Kotabaru sebesar 5,67% (dari 13,53% menjadi 19,20%), serta menyumbang kenaikan proporsi RTH skala Kota Yogyakarta sebesar 0,13% (dari 18,69% menjadi 18,82%). Ruang-ruang ini tidak hanya berhasil ditransformasikan menjadi wadah aktivitas publik harian, tetapi juga memberikan kontribusi terhadap peningkatan kapasitas ruang terbuka hijau, sekaligus melestarikan identitas historis Kotabaru sebagai kawasan perkotaan berkonsep Garden City.