Filosofi Soméah Hadé Ka Sémah yang bermakna memuliakan dan menyambut tamu
dengan sepenuh hati, merupakan inti identitas kultural masyarakat Sunda yang
termanifestasi secara total dalam tata cara hidup, arsitektur, dan artefak Masyarakat Adat
Kampung Naga, Tasikmalaya. Nilai-nilai luhur tersebut tertuang dalam tradisi komunal
botram, kosmologi tritangtu yang membagi ruang menjadi tiga zona bermakna, serta
kekayaan kriya bambu lokal seperti anyaman sasag, teknik palupuh, dan konstruksi
bilik. Namun, praktik botram komunal menghadapi kendala fungsional nyata: topografi
Kampung Naga yang berundak memaksa tuan rumah memindahkan wadah saji satu per
satu ke area sanitasi luar, sementara penetrasi wadah plastik modern mengikis
keselarasan visual kriya tradisional.
Melalui pendekatan Design Ethnography berbasis penggalian nilai budaya Sunda,
penelitian ini merumuskan solusi berupa Perangkat Saji Modular “Soméah” untuk
kapasitas jamuan tujuh orang. Sistem produk ini mengadopsi kosmologi tritangtu yang
ditranslasikan menjadi sistem modul vertikal yang compact, ringan, dan mudah dibawa.
Karakteristik produk mengeksplorasi material tunggal organik 100% bambu lokal (food
grade) dengan sistem penempatan alas daun pisang alami.
Hasil akhir perancangan berhasil menjawab tantangan fungsional sekaligus bertindak
sebagai instrumen kultural untuk meningkatkan nilai-nilai komunal Sunda. Kebaruan
penelitian ini terletak pada integrasi keragaman teknik kriya tradisional lokal sebagai
bahasa rupa yang mengekspresikan keramahan, sehingga produk berperan sebagai
artefak hidup yang menghidupkan kembali kemurnian tradisi botram sekaligus menjaga
keberlanjutan regenerasi kriya bambu setempat.
Perpustakaan Digital ITB