Kota Baru Parahyangan (KBP) sebagai kawasan mandiri dengan visi Sustainable
Township menghadapi permasalahan konektivitas internal “The Missing Link”, yakni
jarak antar klaster hunian menuju hub transit dan fasilitas komersial (1–3 km) yang
belum terlayani moda pengumpan (feeder) kolektif yang inklusif dan rendah emisi.
Penelitian ini bertujuan merancang moda Trackless Micro-Tram sebagai solusi
micro-transit kolektif yang inklusif, rendah emisi, dan sesuai karakteristik topografi serta
demografi kawasan. Penelitian menggunakan metode campuran (mixed-method) dengan
pendekatan Human-Centered Design (HCD), melalui observasi lapangan dan survei
terhadap 41 responden untuk menganalisis preferensi fitur dan variabel Technology
Acceptance Model (TAM). Temuan mengidentifikasi empat kesenjangan desain: (1)
konektivitas spasial antar klaster, (2) defisit utilitas angkut harian, (3) hambatan
topografi berkontur, dan (4) kebutuhan kepercayaan dan keamanan layanan publik.
Sintesis HCD menghasilkan konsep Panoramic Articulated Twin-Car: moda dua
gerbong berkapasitas sekitar 36 penumpang dengan boarding ultra-low floor 35 cm,
kaca panoramik seamless, kompartemen kargo terintegrasi, serta teknologi
zero-emission dan navigasi otonom tanpa rel. Konsep ini diharapkan menjembatani The
Missing Link di KBP sekaligus mendorong peralihan dari ketergantungan kendaraan
pribadi menuju ekosistem transportasi berkelanjutan.
Perpustakaan Digital ITB