Penelitian ini dilatarbelakangi oleh fenomena gejolak politik global yang kian
intensif, di mana konflik Palestina-Israel menjadi salah satu krisis kemanusiaan
paling brutal yang menarik perhatian audiens internasional. Di era digital saat ini,
data menunjukkan sekitar 87% anak Indonesia di bawah usia 13 tahun telah aktif
menggunakan media sosial. Situasi ini menyebabkan mereka sangat rentan terpapar
reportase visual mengenai konflik peperangan secara mentah dan tanpa filter.
Meskipun anak-anak pada rentang usia 9-12 tahun telah mulai mengembangkan
kapasitas kognitif untuk berpikir secara logis, bifokal, dan abstrak, keterpaparan
informasi tersebut tidak diimbangi dengan sarana edukasi yang memadai.
Minimnya media literasi yang sesuai dengan tahap usia mereka menyebabkan
terjadinya kesenjangan yang signifikan dalam upaya membangun pemahaman
terhadap isu-isu kompleks ini, khususnya dalam menumbuhkan daya nalar kritis
dan empati tanpa memicu trauma psikologis.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan
serta pemahaman anak usia 9-12 tahun mengenai konflik Palestina-Israel, sekaligus
merumuskan dan merancang rekomendasi strategi perancangan media edukasi
berbasis ilustrasi yang efektif untuk mengenalkan realitas isu tersebut. Guna
mencapai tujuan tersebut, penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif
kualitatif dengan mengaplikasikan kerangka kerja Design Thinking yang berpusat
pada pengguna. Proses metodologis ini dilaksanakan melalui tahapan Empathize,
Define, Ideate, Prototype, dan Test.
Kajian data lapangan yang dilakukan melalui metode wawancara mendalam dengan
para praktisi pendidikan, psikolog anak, ahli desain komunikasi visual, dan editor
naskah menunjukkan bahwa pengenalan tentang konflik global menuntut adanya
strategi komunikasi visual yang sangat berhati-hati. Strategi ini perlu mampu
menyeimbangkan penyampaian fakta realita historis dengan mekanisme
perlindungan mental atau psikologis anak. Pembuktian analisis juga didasarkan
pada perbandingan terhadap beberapa karya buku bergambar bertema serupa yang
telah diterbitkan sebelumnya, seperti Sea Prayer, Ingatan Masa Kecil, dan A Map
for Falasteen. Dari tinjauan perbandingan tersebut, diidentifikasi bahwa
pendekatan narasi fiksi yang memadukan simbolisme, kiasan visual, serta elemen
keseharian jauh lebih mudah diproses oleh anak dibandingkan visualisasi grafis
yang terlalu eksplisit. Analisis lebih lanjut membuktikan bahwa perancangan media
harus memperhatikan batasan beban kognitif (cognitive load) berdasarkan teori
neo-Piagetian. Pembatasan entitas informasi yang baru, penerapan strategi visual
chunking, serta pemanfaatan struktur cerita tiga babak (three-act structure) terbukti
secara krusial dapat mengelola ruang memori jangka pendek anak, sehingga
pemahaman mereka dapat terbentuk secara optimal.
Penerapan dari seluruh rumusan analisis tersebut diwujudkan dalam prototipe buku
ilustrasi berjudul "Jeruk Yafa Terakhir". Karya ini mengusung metafora aroma
jeruk sebagai representasi dari duka, memori, dan harapan, yang bertujuan
menjauhkan anak dari pemicu stres traumatis sekunder. Hasil uji coba melalui
Focus Group Discussion (FGD) bersama pendidik dan psikolog mengonfirmasi
bahwa penyajian realitas struktural lewat sudut pandang orang ketiga (third-person
point of view) dan penggunaan palet warna monokromatik dengan sentuhan warna
oranye mampu menciptakan jarak psikologis yang sangat aman. Lebih lanjut, hasil
pengujian langsung kepada audiens target, yakni siswa kelas 4 hingga 6 sekolah
dasar, menunjukkan keberhasilan yang signifikan. Anak-anak terbukti mampu
secara mandiri mendekode pesan visual, menganalisis motivasi emosional tokoh
cerita dengan empati yang tinggi, serta menyerap kosakata dan informasi mengenai
kondisi pengungsi di daerah konflik tanpa menunjukkan reaksi kecemasan.
Kebaruan (novelty) dari penelitian ini terletak pada pengembangan strategi
perancangan media edukasi yang secara spesifik mengintegrasikan diskursus isu
konflik global yang sedang berlangsung saat ini—yakni Palestina-Israel—ke dalam
format media buku anak berbahasa Indonesia. Seperti yang diketahui, ketersediaan
media lokal dengan spesifikasi topik kemanusiaan tersebut masih sangat terbatas.
Adapun kontribusi penelitian ini terhadap ilmu pengetahuan adalah berwujud pada
formulasi tata panduan strategi komprehensif—baik dari sisi visual, struktur narasi,
maupun teknis kognitif—dalam merancang karya media anak yang mengusung
materi sensitif. Pada akhirnya, luaran dari kerja akademik ini mampu memberikan
alternatif sumber literasi yang aplikatif bagi para tenaga pendidik, orang tua, dan
praktisi desain dalam membimbing generasi muda untuk mengasah kematangan
pemikiran kritis serta memupuk empati kemanusiaan di tengah derasnya arus
disrupsi informasi global.
Perpustakaan Digital ITB