kemandirian anak dalam aktivitas sehari-hari. Pada anak dengan Down Syndrome,
kemampuan motorik halus umumnya berkembang lebih lambat akibat kondisi
hipotonia otot, keterbatasan koordinasi, serta kontrol gerak yang belum optimal.
Kondisi ini berdampak pada kesulitan anak dalam melakukan aktivitas fungsional
seperti menggenggam, menjepit, menulis, dan keterampilan perawatan diri.
Berbagai penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa permainan puzzle dapat
membantu melatih koordinasi tangan dan mata serta meningkatkan konsentrasi
anak, sementara media buku bergambar efektif dalam menarik perhatian visual
anak dengan Down Syndrome. Namun, sebagian besar penelitian tersebut masih
memposisikan puzzle dan buku sebagai media yang terpisah, sehingga potensi
integrasi keduanya sebagai media pembelajaran interaktif belum banyak dikaji
secara mendalam.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang media edukasi interaktif berupa buku
berbasis aktivitas puzzle sebagai sarana pelatihan motorik halus bagi anak dengan
Down Syndrome usia 7–13 tahun. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif
dengan metode perancangan berbasis pengguna melalui kerangka Double
Diamond, serta memanfaatkan pendekatan kreatif SCAMPER dalam
pengembangan konsep media. Dibandingkan dengan penelitian sejenis yang
menggunakan puzzle atau buku sebagai media terpisah, rancangan media dalam
penelitian ini menawarkan pendekatan integratif yang lebih kontekstual dengan
aktivitas kehidupan sehari-hari anak. Kebaruan penelitian ini terletak pada
perancangan media edukasi interaktif berbasis buku yang secara khusus
disesuaikan dengan karakteristik perkembangan motorik dan kognitif anak dengan
Down Syndrome, baik dari aspek visual, mekanisme interaksi, maupun struktur
aktivitas. Penelitian ini memberikan sumbangan terhadap khazanah ilmu
pengetahuan di bidang desain interaksi dan media edukasi inklusif, serta
berkontribusi sebagai referensi perancangan media pembelajaran berbasis bermain
yang adaptif bagi anak berkebutuhan khusus.
Perpustakaan Digital ITB