Literasi pada dasarnya bukan hanya sebagai kegiatan membaca dan menulis, namun
literasi dapat lebih dari pada itu. Pada sisi lain, perkembangan literasi masyarakat
cukup meningkat dengan era digital sekarang. Sehingga pengetahuan dapat mudah
diperoleh, diubah dengan berbagai cara, dan diproduksi dalam berbagai bentuk, hal
itu terjadi karena akses yang terjangkau lewat ruang digital. Kota Bandung sebagai
Kota Pendidikan dan Kota Kreatif memiliki ekosistem pengetahuan yang besar
lewat berbagai infrastuktur; Galeri Seni, Universitas, Perpustakaan Kota, Ruang
Belajar, Kafe, dan Museum. Namun, ekosistem ini belum didukung oleh satu
fasilitas publik yang mampu menjadi simpul untuk menghubungkan ruang-ruang
literasi formal dan informal tersebut agar lebih adaptif dan terintegrasi. Hal ini
menunjukkan bahwa perlunya perancangan suatu infrastruktur yang relevan dengan
kebutuhan masyarakat urban saat ini. Perancangan tersebut divisualisasikan dalam
bentuk ruang fasilitas yang disebut Learning Commons. Learning Commons
sejatinya adalah konsep ruang belajar kolaboratif yang berkembang dari
perpustakaan tradisional ataupun perpustakaan konvensional.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan
menggabungkan studi literatur, observasi non-partisipatif, serta studi banding
fasilitas learning commons sebagai dasar perumusan konsep desain interior.
Analisis program ruang menunjukkan pentingnya pengaturan gradasi stimulus
(quiet, semi quiet, semi active, active), kebutuhan ruang kolaboratif, ruang hening,
ruang kreatif, serta fasilitas produksi konten digital yang mendukung praktik literasi
multimodal.
Hasil penelitian kemudian dikembangkan ke dalam gagasan urban knowledge
sanctuary, yaitu ruang publik yang berfungsi sebagai suaka pengetahuan di tengah
lingkungan urban yang padat dan distraktif serta ruang digital yang tiada henti dan
sulit ditinggalkan oleh aktivitas sehari-hari. Konsep ini diwujudkan melalui konsep
Contemporary Civic Interior, dengan perancangan ruang bergaya industrial yang
diwujudkan melalui tata ruang yang inklusif, fleksibel, dan mendorong interaksi
sosial, didukung penggunaan material kayu dan metal yang menciptakan
keseimbangan antara kehangatan, keterbukaan, dan karakter kontemporer.
Penerapan diwujudkan melalui bentuk ruang berlapis (Layered Sanctuary
Gradient).
Melalui pendekatan tersebut, ruang learning commmons ini diharapkan dapat
menjadi bentuk penerapan model fasilitas publik yang mendukung siklus
pengetahuan secara utuh yaitu mulai dari membaca, refleksi, kolaborasi, hingga
produksi sekaligus memperkuat ekosistem literasi dan kreativitas Kota Bandung di
era digital.
Perpustakaan Digital ITB