digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Literasi pada dasarnya bukan hanya sebagai kegiatan membaca dan menulis, namun literasi dapat lebih dari pada itu. Pada sisi lain, perkembangan literasi masyarakat cukup meningkat dengan era digital sekarang. Sehingga pengetahuan dapat mudah diperoleh, diubah dengan berbagai cara, dan diproduksi dalam berbagai bentuk, hal itu terjadi karena akses yang terjangkau lewat ruang digital. Kota Bandung sebagai Kota Pendidikan dan Kota Kreatif memiliki ekosistem pengetahuan yang besar lewat berbagai infrastuktur; Galeri Seni, Universitas, Perpustakaan Kota, Ruang Belajar, Kafe, dan Museum. Namun, ekosistem ini belum didukung oleh satu fasilitas publik yang mampu menjadi simpul untuk menghubungkan ruang-ruang literasi formal dan informal tersebut agar lebih adaptif dan terintegrasi. Hal ini menunjukkan bahwa perlunya perancangan suatu infrastruktur yang relevan dengan kebutuhan masyarakat urban saat ini. Perancangan tersebut divisualisasikan dalam bentuk ruang fasilitas yang disebut Learning Commons. Learning Commons sejatinya adalah konsep ruang belajar kolaboratif yang berkembang dari perpustakaan tradisional ataupun perpustakaan konvensional. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif dengan menggabungkan studi literatur, observasi non-partisipatif, serta studi banding fasilitas learning commons sebagai dasar perumusan konsep desain interior. Analisis program ruang menunjukkan pentingnya pengaturan gradasi stimulus (quiet, semi quiet, semi active, active), kebutuhan ruang kolaboratif, ruang hening, ruang kreatif, serta fasilitas produksi konten digital yang mendukung praktik literasi multimodal. Hasil penelitian kemudian dikembangkan ke dalam gagasan urban knowledge sanctuary, yaitu ruang publik yang berfungsi sebagai suaka pengetahuan di tengah lingkungan urban yang padat dan distraktif serta ruang digital yang tiada henti dan sulit ditinggalkan oleh aktivitas sehari-hari. Konsep ini diwujudkan melalui konsep Contemporary Civic Interior, dengan perancangan ruang bergaya industrial yang diwujudkan melalui tata ruang yang inklusif, fleksibel, dan mendorong interaksi sosial, didukung penggunaan material kayu dan metal yang menciptakan keseimbangan antara kehangatan, keterbukaan, dan karakter kontemporer. Penerapan diwujudkan melalui bentuk ruang berlapis (Layered Sanctuary Gradient). Melalui pendekatan tersebut, ruang learning commmons ini diharapkan dapat menjadi bentuk penerapan model fasilitas publik yang mendukung siklus pengetahuan secara utuh yaitu mulai dari membaca, refleksi, kolaborasi, hingga produksi sekaligus memperkuat ekosistem literasi dan kreativitas Kota Bandung di era digital.