Pariwisata perkotaan menjadi strategi pembangunan utama kota kontemporer. Di Kabupaten Belitung, moratorium timah 2023–2024 menggeser orientasi ekonomi ke sektor pariwisata, didukung status destinasi prioritas nasional dan UNESCO Global Geopark. Sebagai gerbang wisata, Tanjungpandan memiliki aset strategis kawasan tepi air (5,2 km) dan simpul warisan budaya (heritage nodes). Namun, kawasan ini masih sekadar menjadi titik transit singkat akibat degradasi lingkungan, terputusnya koneksi tepi air dengan heritage nodes, kerentanan banjir, dan terbengkalainya sejarah kota.
Penelitian ini bertujuan merancang tepi air Tanjungpandan sebagai destinasi wisata melalui pendekatan urban regeneration yang mengintegrasikan aspek fisik-ekologis, spasial-fungsional, dan sosio-kultural. Metode yang digunakan meliputi pengumpulan data lapangan, analisis makro-mikro, analisis potensi-masalah, gap analysis, studi preseden, serta analisis SWOT-TOWS.
Hasil perancangan berupa kerangka desain hingga masterplan seluas ±32,9 hektar dengan lima zona tematik. Melalui strategi Stitching Mechanism, desain ini merajut kembali tepi air dengan heritage nodes, mengaktifkan marina, dan menerapkan infrastruktur biru-hijau untuk mitigasi banjir. Kebaruan studi ini terletak pada model regenerasi yang memadukan pariwisata, resiliensi lingkungan, dan identitas lokal pada kota yang bertransisi dari ekonomi ekstraktif. Kesimpulannya, urban regeneration mampu mereposisi Tanjungpandan dari sekadar titik transit menjadi destinasi wisata yang tangguh, berkelanjutan, dan beridentitas lokal.
Perpustakaan Digital ITB