Pengakuan UNESCO terhadap Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto (OCMHS) sebagai Warisan Dunia menegaskan nilai universal dari sebuah kawasan cagar budaya yang terintegrasi. Namun, Stasiun Kereta Api Kota Solok yang secara historis berperan krusial sebagai simpul logistik dalam sistem tersebut saat ini mengalami degradasi fungsi kawasan akibat nonaktifnya jalur kereta api. Kawasan dihadapkan pada ancaman disintegrasi spasial, penurunan kualitas fisik bangunan cagar budaya, serta adanya ruang-ruang mati (lost space). Tesis perancangan bertujuan untuk merancang Kawasan Stasiun Kota Solok agar kembali menjadi simpul cagar budaya yang hidup (Living Heritage Hub). Urban Regeneration diimplementasikan sebagai pendekatan perancangan untuk mengembangkan fungsi-fungsi sosial dan ekonomi tanpa menghilangkan identitas kawasan cagar budaya. Strategi perancangan yaitu dengan menerapkan adaptive reuse bagi bangunan cagar budaya yang terbengkalai agar kembali produktif, serta penataan area komersial untuk mewadahi Pedagang Kaki Lima (PKL). Selain itu, dirancang sistem sirkulasi dengan konsep Green Connection yang mengintegrasikan koridor rel non-aktif dengan kelestarian lanskap Sungai Batang Lembang. Perancangan kawasan dibuat untuk meningkatkan kualitas bentuk eksisting (enhancing existing forms) untuk mempertahankan keutuhan narasi OCMHS dan keberlanjutan Kota Solok.
Perpustakaan Digital ITB