Minimnya edukasi mengenai batasan diri (boundaries) dan relasi sehat pada anak perempuan
usia sekolah dasar menjadi salah satu faktor yang dapat memengaruhi kemampuan mereka
dalam mengenali, menyampaikan, dan mempertahankan batasan diri di kemudian hari.
Permasalahan tersebut diperparah oleh pola komunikasi keluarga yang masih sering
mengabaikan perasaan, pendapat, dan kebutuhan anak. Perancangan kampanye sosial parenting
“Dengar Aku, Boleh?” bertujuan meningkatkan kesadaran orang tua mengenai pentingnya
komunikasi yang sehat sebagai fondasi pembentukan batasan diri dan relasi yang sehat pada
anak perempuan. Metode perancangan yang digunakan adalah Double Diamond yang terdiri atas
tahap Discover, Define, Develop, dan Deliver. Pengumpulan data dilakukan melalui studi
literatur, wawancara dengan psikolog anak, serta wawancara dengan target audiens. Hasil
penelitian menunjukkan bahwa kemampuan anak dalam membangun batasan diri berawal dari
pengalaman mereka ketika didengar, dihargai, dan diberikan ruang untuk mengekspresikan
perasaan maupun pendapat. Temuan tersebut melahirkan insight bahwa perilaku yang sering
dianggap sebagai pembangkangan atau kenakalan anak sesungguhnya merupakan upaya mereka
untuk menyampaikan kebutuhan dan membangun batasan diri. Berdasarkan insight tersebut,
dirancang kampanye sosial dengan big idea “Dengar Aku, Boleh?” yang menggunakan sudut
pandang anak sebagai narasi utama untuk membangun kedekatan emosional dan mendorong
refleksi orang tua. Strategi komunikasi kampanye menggunakan model AISAS yang
diterjemahkan ke dalam tiga tahapan, yaitu conditioning, informing, dan reminding. Pesan
kampanye disampaikan melalui media digital dan media luar ruang yang saling terintegrasi
sehingga mampu menjangkau audiens secara efektif. Melalui perancangan ini diharapkan orang
tua dapat lebih memahami pentingnya mendengarkan anak sebagai langkah awal dalam
mendukung perkembangan batasan diri dan relasi yang sehat.
Perpustakaan Digital ITB