Perkembangan masif pariwisata di Bali selama beberapa dekade terakhir telah
memicu krisis sosial yang tidak hanya berdampak pada degradasi ekosistem, tetapi
juga pada terputusnya relasi manusia dengan nilai budaya yang selama ini menjadi
dasar keharmonisan kehidupan masyarakat Bali. Alih fungsi lahan, degradasi
lingkungan, dan overturisme pada ruang pariwisata telah menggeser praktik budaya
dari sistem pengetahuan hidup menjadi komoditas simbol yang terlepas dari
konteksnya. Kondisi ini menunjukkan kelemahan ruang edukasi publik dalam
mentransmisikan makna budaya secara utuh, baik kepada masyarakat urban
maupun wisatawan. Untuk menjembatani permasalahan tersebut, diperlukan
sebuah pusat warisan budaya yang tidak hanya berfungsi sebagai wadah pelestarian
budaya, tetapi juga dirancang untuk menerjemahkan nilai-nilai kearifan lokal Bali
menjadi sebuah narasi ruang yang relevan terhadap kondisi masa kini dan dapat
diapresiasi oleh pengunjung.
Penelitian ini mengusulkan perancangan sebuah pusat warisan budaya sebagai
fasilitas edukasi publik di Uluwatu, Bali, dengan fokus pada penciptaan ruang
edukasi yang interaktif. Metode penelitian kualitatif berupa pengumpulan data studi
literatur, observasi lapangan, dan studi preseden diterjemahkan ke dalam strategi
desain interior berbasis naratif dan desain multisensori untuk membangun
pengalaman belajar yang lebih imersif dan meningkatkan keterlibatan emosional
pengunjung. Berlandaskan pada teori persepsi spasial yang memandang
pengalaman ruang sebagai hasil interaksi antara stimulus lingkungan dengan proses
kognitif dan sensorik pengguna, hasil perancangan menghadirkan desain interior
yang mendukung aktivitas pembelajaran budaya Bali melalui pendekatan desain
naratif-multisensori yang diimplementasikan pada materialitas, tata ruang,
pencahayaan, tata suara, aroma, tekstur, serta sekuens antar program ruang.
Perpustakaan Digital ITB