digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Indonesia memiliki potensi sumber daya rumput laut yang sangat melimpah, namun pemanfaatan rumput laut cokelat seperti Sargassum sp. untuk produksi alginat bernilai tinggi masih menghadapi berbagai kendala. Ekstraksi konvensional saat ini umumnya menghasilkan rendemen yang relatif rendah, mutu yang tidak seragam, serta terlalu bergantung pada penggunaan bahan kimia alkali dan asam kuat yang berlebihan. Sebagai solusi inovatif yang ramah lingkungan, PT ALGICO merancang sistem pascapanen terintegrasi yang memadukan pra-perlakuan pengeringan fisik, fermentasi padat (Solid-State Fermentation) menggunakan mikroorganisme Rhizopus oryzae, serta ekstraksi berbasis khelasi natrium sitrat. Enzim hidrolitik dari jamur tersebut mampu mendegradasi selulosa tanpa merusak rantai polimer alginat, sehingga pendekatan ini sukses meningkatkan rendemen produk secara signifikan sekaligus menekan penggunaan bahan kimia keras. Dalam aspek operasional, pabrik PT ALGICO dirancang untuk berjalan secara kontinu selama 24 jam sehari dengan 330 hari kerja efektif per tahun. Dengan mengolah sekitar 13,4 ton bahan baku Sargassum sp. segar per harinya, pabrik ini mampu memproduksi 3.600 kg bubuk natrium alginat murni yang terjamin mutu food grade-nya, memiliki kemurnian tinggi, viskositas mencapai 37,40 cPs, serta tingkat rendemen sebesar 34,88%. Industri ini juga berkomitmen pada prinsip zero waste dan ekonomi sirkular, di mana ampas residu ekstraksi diolah lebih lanjut menjadi pupuk organik, dan rumput laut yang tidak lolos seleksi kualitas dijadikan bahan baku pakan ternak. Seluruh sistem pengolahan ini didukung oleh standar operasional dan higienitas internasional, termasuk penerapan GMP, SSOP, HACCP, ISO 45001 untuk K3, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang dilengkapi teknologi daur ulang Reverse osmosis (RO). Dari kacamata kelayakan finansial, perancangan pabrik ekstraksi alginat ini terbukti sangat prospektif dan menguntungkan. Dengan modal investasi awal (CAPEX) sebesar Rp49,6 miliar dan biaya operasional (OPEX) tahunan Rp275,6 miliar, proyeksi pendapatan dari produk utama dan sampingan mencapai Rp294,6 miliar per tahun. Proyek ini menorehkan indikator ekonomi yang cemerlang, seperti Internal Rate of Return (IRR) sebesar 50,25% yang jauh melampaui suku bunga acuan, NPV yang sangat positif, dan masa pengembalian investasi (Payback Period) yang tergolong sangat singkat, yaitu hanya dalam 2,49 tahun. Walaupun evaluasi risiko memperlihatkan bahwa bisnis ini sensitif terhadap penurunan harga jual hingga 10%, hal tersebut dapat dikendalikan melalui kontrak penjualan jangka panjang dan efisiensi rantai pasok, sehingga secara keseluruhan proyek PT ALGICO sangat layak dan siap direalisasikan secara komersial di Indonesia.