Indonesia memiliki potensi sumber daya rumput laut yang sangat melimpah, namun
pemanfaatan rumput laut cokelat seperti Sargassum sp. untuk produksi alginat
bernilai tinggi masih menghadapi berbagai kendala. Ekstraksi konvensional saat ini
umumnya menghasilkan rendemen yang relatif rendah, mutu yang tidak seragam,
serta terlalu bergantung pada penggunaan bahan kimia alkali dan asam kuat yang
berlebihan. Sebagai solusi inovatif yang ramah lingkungan, PT ALGICO
merancang sistem pascapanen terintegrasi yang memadukan pra-perlakuan
pengeringan fisik, fermentasi padat (Solid-State Fermentation) menggunakan
mikroorganisme Rhizopus oryzae, serta ekstraksi berbasis khelasi natrium sitrat.
Enzim hidrolitik dari jamur tersebut mampu mendegradasi selulosa tanpa merusak
rantai polimer alginat, sehingga pendekatan ini sukses meningkatkan rendemen
produk secara signifikan sekaligus menekan penggunaan bahan kimia keras.
Dalam aspek operasional, pabrik PT ALGICO dirancang untuk berjalan secara
kontinu selama 24 jam sehari dengan 330 hari kerja efektif per tahun. Dengan
mengolah sekitar 13,4 ton bahan baku Sargassum sp. segar per harinya, pabrik ini
mampu memproduksi 3.600 kg bubuk natrium alginat murni yang terjamin mutu
food grade-nya, memiliki kemurnian tinggi, viskositas mencapai 37,40 cPs, serta
tingkat rendemen sebesar 34,88%. Industri ini juga berkomitmen pada prinsip zero
waste dan ekonomi sirkular, di mana ampas residu ekstraksi diolah lebih lanjut
menjadi pupuk organik, dan rumput laut yang tidak lolos seleksi kualitas dijadikan
bahan baku pakan ternak. Seluruh sistem pengolahan ini didukung oleh standar
operasional dan higienitas internasional, termasuk penerapan GMP, SSOP,
HACCP, ISO 45001 untuk K3, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang
dilengkapi teknologi daur ulang Reverse osmosis (RO).
Dari kacamata kelayakan finansial, perancangan pabrik ekstraksi alginat ini terbukti
sangat prospektif dan menguntungkan. Dengan modal investasi awal (CAPEX)
sebesar Rp49,6 miliar dan biaya operasional (OPEX) tahunan Rp275,6 miliar,
proyeksi pendapatan dari produk utama dan sampingan mencapai Rp294,6 miliar
per tahun. Proyek ini menorehkan indikator ekonomi yang cemerlang, seperti
Internal Rate of Return (IRR) sebesar 50,25% yang jauh melampaui suku bunga
acuan, NPV yang sangat positif, dan masa pengembalian investasi (Payback Period)
yang tergolong sangat singkat, yaitu hanya dalam 2,49 tahun. Walaupun evaluasi
risiko memperlihatkan bahwa bisnis ini sensitif terhadap penurunan harga jual
hingga 10%, hal tersebut dapat dikendalikan melalui kontrak penjualan jangka
panjang dan efisiensi rantai pasok, sehingga secara keseluruhan proyek PT
ALGICO sangat layak dan siap direalisasikan secara komersial di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB