Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) merupakan sebuah gereja Lutheran
Evangelis dengan karakter liturgi yang formal dan terstruktur. Namun, seiring
berjalannya waktu, ibadah yang terstruktur ini menjadi kurang relevan di jaman
yang semakin modern, terutama bagi para generasi muda. Generasi muda
cenderung lebih menyukai ibadah dengan musik kontemporer dan liturgi yang
informal. Namun, kedua hal ini berbanding terbalik dengan karakter liturgi Gereja
HKBP dan menimbulkan banyak dinamika.
Perancangan ini dibuat untuk menarik kembali perasaan keterikatan jemaat ketika
beribadah di Gereja HKBP tanpa mengubah karakter liturginya, melainkan melalui
perancangan ruang ibadah yang dapat memenuhi kebutuhan jemaat ketika
beribadah. Untuk mengetahui kebutuhan tersebut, dilakukan penyebaran kuesioner
mengenai motivasi dan kebiasaan jemaat ketika beribadah. Melalui hasil kuesioner
tersebut, disimpulkan bahwa kebutuhan utama jemaat ketika beribadah adalah
pemenuhan kebutuhan spiritual serta kedekatan dengan keluarga atau tradisi.
Dalam memenuhi kebutuhan jemaat ketika beribadah, perancangan ini mengangkat
konsep sakral dan dekat dengan mengintegrasikan identitas budaya Batak Toba ke
dalam elemen-elemen interior gereja. Penerapan budaya Batak Toba dilakukan
melalui bentuk, material, warna, dan ornamen yang tetap mempertahankan karakter
sederhana dan sakral Gereja HKBP. Perancangan ini menghasilkan rancangan
Gereja HKBP yang mampu mendukung kebutuhan spiritual jemaat sekaligus
menciptakan rasa memiliki dan keterikatan terhadap gereja.
Perpustakaan Digital ITB