digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Abstrak - NAMIRA HUSAIMAH
Terbatas  Irwan Sofiyan
» Gedung UPT Perpustakaan

Gangguan pendengaran dapat menurunkan kualitas hidup seseorang. Di Indonesia, alat skrining dan diagnosis pendengaran umumnya memiliki harga yang relatif mahal sehingga hanya tersedia di fasilitas kesehatan berskala besar. Kondisi ini menyebabkan masyarakat menengah ke bawah serta masyarakat yang tinggal jauh dari fasilitas kesehatan mengalami kesulitan dalam melakukan pemeriksaan pendengaran. Selain itu alat skrining pendengaran ini juga sangat dibutuhkan untuk kawasan industri dengan lokasi kerja yang memiliki tingkat kebisingan cukup tinggi. Untuk menjawab permasalahan tersebut, dilakukan perancangan dan realisasi audiometer nada murni portabel dengan sistem penghantaran suara melalui udara. Audiometer ini dirancang untuk menghasilkan suara nada murni pada frekuensi 125 Hz, 250 Hz, 500 Hz, 750 Hz, 1000 Hz, 1500 Hz, 2000 Hz, 3000 Hz, 4000 Hz, 6000 Hz, dan 8000 Hz dengan intensitas 0 dB hingga 100 dB dalam rentang 5 dB. Sistem audiometer menggunakan mikrokontroler ESP32 dan DAC eksternal PCM5102 untuk menghasilkan sinyal suara sesuai spesifikasi. Pengaturan frekuensi dan intensitas dilakukan secara digital menggunakan rotary encoder, sedangkan sistem antarmuka pengguna menggunakan aplikasi berbasis web. Audiometer dirancang bersifat portabel agar mudah dibawa dan dapat digunakan untuk menjangkau wilayah yang jauh dari fasilitas kesehatan. Kalibrasi dan pengukuran frekuensi serta intensitas dilakukan menggunakan Real Time Analyzer (RTA) di Ruang Semi Anechoic Laboratorium Fisika Bangunan dan Akustik, Teknik Fisika ITB. Hasil kalibrasi menunjukkan bahwa audiometer mampu menghasilkan frekuensi dan intensitas suara sesuai dengan spesifikasi yang dirancang. Untuk mengetahui akurasi diagnostik alat, dilakukan uji diagnostik di Kasoem Hearing Center terhadap lima subjek pasien berusia 23–24 tahun. Audiometer nada murni konvensional yang digunakan di ruang pemeriksaan khusus pendengaran dijadikan sebagai baku emas. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh subjek memiliki hasil pemeriksaan pendengaran normal baik menggunakan audiometer konvensional maupun audiometer portabel. Terdapat sedikit perbedaan hasil pengukuran, namun masih berada dalam batas toleransi kesalahan yang diizinkan dan tidak memengaruhi kesimpulan diagnosis. Dengan demikian, audiometer nada murni portabel yang dikembangkan terbukti dapat digunakan sebagai alat skrining pendengaran alternatif dengan biaya terjangkau dan berpotensi diaplikasikan di daerah yang jauh dari fasilitas kesehatan.