digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kasus kekerasan seksual pada anak di Indonesia serta masih rendahnya pemahaman anak usia 7–9 tahun mengenai konsep body safety, di tengah budaya yang masih menganggap topik ini tabu. Kondisi ini menunjukkan perlunya media edukasi yang aman, menarik, dan sesuai dengan tahap perkembangan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode Double Diamond Design Process sebagai kerangka kerja. Landasan teori meliputi perkembangan kognitif anak tahap operasional konkret, konsep body safety (recognize, resist, report), serta elemen gamifikasi melalui kerangka DMC (dynamics, mechanics, components). Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan psikolog anak dan developer game, kuesioner kepada orang tua, serta observasi terhadap buku anak bertema body safety dan berbagai book app anak. Hasil analisis menunjukkan bahwa anak usia 7–9 tahun lebih mudah memahami konsep body safety melalui pendekatan visual yang konkret, narasi sederhana, ilustrasi ramah anak, serta contoh situasi sehari-hari. Berdasarkan temuan tersebut, dirancang book app interaktif berbasis storytelling untuk membantu anak mengenali batas tubuh, berani menolak, dan melaporkan situasi tidak aman secara positif. Hasil pengujian terhadap lima anak usia 7–9 tahun menunjukkan adanya peningkatan pemahaman mengenai body safety, terutama dalam mengenali area tubuh privat, memahami langkah No, Go, Tell, serta menentukan respons yang tepat pada situasi tidak nyaman. Temuan ini menunjukkan bahwa book app yang dirancang berpotensi menjadi media edukasi pendamping yang efektif bagi orang tua. Ke depan, media ini dapat dikembangkan melalui penambahan variasi konten, fitur interaktif, dan sistem penghargaan untuk meningkatkan keterlibatan anak dalam proses belajar.