Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kasus kekerasan seksual pada anak di
Indonesia serta masih rendahnya pemahaman anak usia 7–9 tahun mengenai
konsep body safety, di tengah budaya yang masih menganggap topik ini tabu.
Kondisi ini menunjukkan perlunya media edukasi yang aman, menarik, dan sesuai
dengan tahap perkembangan anak. Penelitian ini menggunakan pendekatan
kualitatif deskriptif dengan metode Double Diamond Design Process sebagai
kerangka kerja. Landasan teori meliputi perkembangan kognitif anak tahap
operasional konkret, konsep body safety (recognize, resist, report), serta elemen
gamifikasi melalui kerangka DMC (dynamics, mechanics, components).
Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan psikolog anak dan
developer game, kuesioner kepada orang tua, serta observasi terhadap buku anak
bertema body safety dan berbagai book app anak. Hasil analisis menunjukkan
bahwa anak usia 7–9 tahun lebih mudah memahami konsep body safety melalui
pendekatan visual yang konkret, narasi sederhana, ilustrasi ramah anak, serta
contoh situasi sehari-hari. Berdasarkan temuan tersebut, dirancang book app
interaktif berbasis storytelling untuk membantu anak mengenali batas tubuh,
berani menolak, dan melaporkan situasi tidak aman secara positif. Hasil pengujian
terhadap lima anak usia 7–9 tahun menunjukkan adanya peningkatan pemahaman
mengenai body safety, terutama dalam mengenali area tubuh privat, memahami
langkah No, Go, Tell, serta menentukan respons yang tepat pada situasi tidak
nyaman. Temuan ini menunjukkan bahwa book app yang dirancang berpotensi
menjadi media edukasi pendamping yang efektif bagi orang tua. Ke depan, media
ini dapat dikembangkan melalui penambahan variasi konten, fitur interaktif, dan
sistem penghargaan untuk meningkatkan keterlibatan anak dalam proses belajar.
Perpustakaan Digital ITB