digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Perkembangan teknologi digital mengubah pola interaksi, ekspresi diri, dan preferensi hiburan Generasi Z sebagai generasi digital native. Lebih dari 40% film yang mereka konsumsi adalah animasi, dengan genre komedi mendominasi lebih dari 50% pilihan tontonan. Namun, animasi lokal yang merepresentasikan kehidupan remaja Generasi Z secara autentik masih terbatas, sehingga dibutuhkan media komunikasi visual baru untuk menjawabnya. Perancangan ini bertujuan mengembangkan animasi 3D bertema kehidupan remaja Generasi Z melalui bioskop virtual pada platform Roblox untuk menghadirkan pengalaman menonton imersif dan sosial. Metode yang digunakan adalah Design Thinking dengan pendekatan human-centered design, didukung wawancara target audiens dan narasumber ahli animasi 3D serta Roblox, dianalisis menggunakan Uses and Gratifications Theory, Digital Native Theory, dan Social Presence Theory untuk merumuskan strategi narasi, visual, dan media penyajian. Hasil analisis menunjukkan Generasi Z membutuhkan hiburan yang jujur merepresentasikan keresahan emosional serta ruang interaksi sosial. Berdasarkan temuan tersebut, dirancang animasi 3D pendek "YUK!" bernarasi slice of life komedi berdurasi kurang dari 5 menit, avatar R16 Roblox, gaya visual stilisasi berpalet mood, dan sinematografi close-up hingga confessional shot untuk memperkuat ekspresi karakter dan ritme komedi. Desain suara responsif tersinkron dengan aksi karakter, dilengkapi fitur obrolan real-time yang membangun social presence dan pengalaman menonton kolektif. Uji coba pengguna (User Test) terhadap 8 responden Generasi Z menunjukkan capaian sangat baik pada seluruh aspek, dengan skor rata-rata 4,5–4,8 dari skala 5 untuk kesesuaian narasi, visual-estetika, kemudahan penggunaan, dan pengalaman menonton. Sebanyak 75%–87,5% responden menilai animasi autentik dan menyenangkan, membuktikan sistem map bioskop virtual dapat diterima dan dioperasikan dengan baik. Dengan demikian, animasi 3D yang dirancang kontekstual dari narasi, visual, audio, hingga media distribusi terbukti empiris efektif, relevan, dan imersif sebagai sarana komunikasi visual bagi Generasi Z, sekaligus memperkuat keterlibatan audiens melalui pengalaman sosial yang nyata di ruang digital.