digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Secara umum partikulat merupakan pencemar yang sangat kritis karena ukuran, kemampuan ditransportasikan jarak jauh dan kandungan komposisi kimia yang terkandung di dalamnya. Partikulat halus yang memiliki distribusi ukuran kurang dari 2,5 μm dianggap dapat menyebabkan permasalahan kesehatan yang serius hingga kematian pada manusia. Dengan karakteristik topografi dan pertumbuhan penduduknya, Kota Bandung dianggap memiliki potensi bahaya pencemaran udara yang tinggi sehingga diperlukan upaya monitoring kualitas pencemar udara salah satunya PM2.5. Instrumen AirPhoton®, yang terdiri atas Nephelometer dan Filter Sampler, diintroduksikan sebagai instrumen pengukuran PM2.5 semi-otomatis yang lebih hemat filter serta mampu mengurangi kemungkinan kehilangan parameter semivolatil dan mengurangi bias pada hasil pengukuran. Pengukuran dilakukan di atap Gedung PAU ITB yang dianggap dapat mewakili kualitas udara ambien area urban Kota Bandung serta kedekatan dengan instrumen Cimel Sunphotometer guna menentukan siklus pengukuran pada instrumen AirPhoton®. Sebagai instrumen pembanding, digunakan instrumen MiniVol® yang diklaim mampu memberikan hasil pengukuran yang mirip dengan instrumen standar. Pengukuran dilakukan selama 14 hari, kemudian dilakukan analisa gravimetri terhadap filter untuk mendapatkan konsentrasi PM2.5, kemudian dibandingkan antar kedua instrumen tersebut. Dari data awal pengukuran, hasil perbandingan kedua instrumen menunjukkan bahwa pengukuran PM2.5 menggunakan instrumen AirPhoton® secara konsisten lebih rendah daripada instrumen MiniVol® dengan persamaan korelasi: y = 0,37x + 10,87. Pengukuran normal selanjutnya dilakukan sejak bulan Agustus 2014 - Februari 2015 dengan metode sampling intermiten. Hasil rata-rata konsentrasi PM2.5 pada pengukuran intermiten menggunakan duty cycle ialah 33.03 ± 18.38 μg/m3.