Lignin merupakan biopolimer aromatik terbarukan yang tersedia dalam jumlah
besar sebagai produk samping industri pulp dan memiliki potensi besar sebagai
bahan baku serat berperforma tinggi berbasis biomassa. Namun, pemanfaatan lignin
sebagai material pembentuk serat masih menghadapi berbagai kendala, terutama
terkait kemurnian, heterogenitas struktur dan berat molekul, serta kemampuan
pembentukan serat (spinnability) yang rendah akibat karakteristik lignin yang
kompleks dan bercabang. Kondisi tersebut menyebabkan pembentukan serat
kontinu dengan sifat mekanik yang tinggi menjadi sulit dicapai. Selain itu,
hubungan antara kualitas lignin hasil isolasi, peningkatan spinnability, modifikasi
struktur selama pembentukan serat, dan perubahan sifat setelah perlakuan termal
masih belum dipahami secara komprehensif. Oleh karena itu, penelitian ini
bertujuan mengembangkan serat berperforma tinggi berbasis lignin dari limbah
lindi hitam kraft serta membangun pemahaman antara hubungan struktur bahan
baku, sifat, proses, dan performa serat yang dihasilkan.
Secara umum, penelitian ini dibagi ke dalam beberapa tahap. Pada tahap pertama,
proses isolasi lignin dilakukan menggunakan metode presipitasi asam sitrat dengan
variasi pH (pH 2, 3, 4). Kemudian dilakukan proses pemurnian menggunakan air
deionisasi (DI) dengan metode pelarutan panas pada berbagai rasio pencucian.
Tahap kedua, ekstraksi selulosa bambu apus dilakukan melalui perlakuan alkalisasi
menggunakan NaOH 17,5% (w/w) dan bleaching dengan NaOCl berbagai
konsentrasi (0,5%, 1%, 1,5%, dan 2% (w/w)). Tahapan isolasi lignin dan ekstraksi
selulosa selanjutnya diimplementasikan pada reaktor multifungsional skala bench
bervolume 34 L untuk mengevaluasi kemampuan produksi bahan baku skala besar.
Pada tahap ketiga, dilakukan pengembangan serat berperforma tinggi berbasis
lignin melalui metode wet spinning menggunakan sistem lignin/selulosa dan
lignin/polivinil alkohol (PVA) dengan berbagai komposisi. Pada sistem lignin/PVA
ditambahkan tahap pasca-spinning dengan hot drawing sederhana. Tahap keempat,
dilakukan perlakuan termal berupa stabilisasi bertahap dari temperatur ruang
hingga temperatur 240 ? dan karbonisasi bertahap dari temperatur ruang hingga
temperatur 1200 ? pada serat terpilih berdasarkan kekuatan tarik tertinggi dan
kadar karbon tertinggi. Tahap terakhir berupa optimasi untuk menghasilkan serat
berperforma tinggi dengan homogenitas tinggi. Kemurnian lignin secara kuantitatif
dilakukan dengan metode Klason lignin (TAPPI T-222), sementara kemurnian
ii
selulosa ditentukan dengan metode Chesson-Datta. Karakteristik material
dievaluasi melalui analisis gugus fungsi dan interaksi antarmolekul menggunakan
Fourier Transform Infrared Spectroscopy (FTIR), identifikasi struktur kimia lignin
menggunakan Nuclear Magnetic Resonance (NMR), analisis distribusi berat
molekul menggunakan Gel Permeation Chromatography (GPC), penentuan
komposisi unsur menggunakan elemental analyzer. Performa serat dievaluasi
melalui pengamatan morfologi menggunakan Scanning Electron Microscopy
(SEM), pengujian tarik, carbon yield, dan kadar karbon.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum isolasi lignin dari lindi
hitam diperoleh pada pH 2 dan rasio lignin terhadap air DI 1:100, menghasilkan
lignin dengan kemurnian 91,69% dan indeks polidispersitas 1,09. Selulosa bambu
apus dengan kemurnian 91,37% diperoleh melalui alkalisasi menggunakan NaOH
17,5% yang diikuti bleaching menggunakan NaOCl 1%. Impelementasi
penggunaan reaktor multifungsional skala bench menunjukkan reproduktibilitas
yang baik dengan peningkatan kapasitas proses hingga 100 kali tanpa menurunkan
kualitas lignin maupun selulosa yang dihasilkan. Penambahan selulosa dan PVA
sebagai polimer peningkat spinnability terbukti meningkatkan kemampuan
pembentukan serat lignin secara signifikan. Pada sistem lignin/selulosa, kekuatan
tarik tertinggi diperoleh pada L50S50, yakni sebesar 310 MPa. Sementara itu, pada
sistem lignin/PVA, L40P60 yang diberi perlakuan hot drawing menghasilkan
kekuatan tarik tertinggi sekitar 2,80 GPa. Optimasi waktu koagulasi pada sistem
L40P60 menghasilkan kondisi optimum pada waktu tinggal 40 detik dengan
kekuatan tarik mencapai 3,16 GPa. Serat hasil optimasi koagulasi tersebut belum
melalui proses stabilisasi dan karbonisasi. Pada serat yang diberi perlakuan
stabilisasi dan karbonisasi, L50S50 menghasilkan kekuatan tarik tertinggi sebesar
1,30 GPa, sedangkan L70P30 menghasilkan carbon yield dan kadar karbon
tertinggi masing-masing sebesar 43,26% dan 92,98%. Hasil tersebut menunjukkan
bahwa carbon yield dan kadar karbon yang tinggi tidak secara langsung
menghasilkan sifat mekanik tertinggi, karena homogenitas morfologi, kontinuitas
struktur, serta minimnya rongga dan cacat internal turut menentukan performa serat
setelah karbonisasi.
Kebaruan penelitian ini terletak pada pengembangan pendekatan terintegrasi untuk
mengonversi lignin hasil isolasi dari lindi hitam kraft menjadi serat berperforma
tinggi. Pendekatan yang mengintegrasikan pemurnian lignin, peningkatan kapasitas
proses, peningkatan spinnability, pembentukan serat, dan perlakuan termal dalam
satu rangkaian penelitian masih sangat terbatas dilaporkan. Penelitian ini juga
memperkenalkan pemanfaatan selulosa bambu apus sebagai agen peningkat
spinnability pada sistem lignin/selulosa, yang belum pernah dilaporkan sebelumnya
untuk aplikasi serat berperforma tinggi berbasis lignin. Kebaruan lainnya adalah
penerapan hot drawing sederhana menggunakan media minyak nabati pada sistem
lignin/PVA, yang berdasarkan telaah penelitian terdahulu belum pernah dilaporkan
dalam pengembangan serat berperforma tinggi berbasis lignin. Sifat tarik tersebut
dapat dicapai tanpa memerlukan proses stabilisasi dan karbonisasi pada temperatur
tinggi. Penyederhanaan tahapan proses ini menyebabkan kebutuhan energi dalam
pembuatan serat berperforma tinggi berbasis lignin menjadi lebih rendah. Selain itu,
dikembangkan reaktor multifungsional skala bench yang mampu digunakan untuk
pengolahan lignin dan selulosa dalam satu sistem peralatan. Kontribusi ilmiah
penelitian ini adalah membangun kerangka hubungan komprehensif antara kualitas
bahan baku, proses pembentukan serat, struktur, dan sifat mekanik serat
berperforma tinggi berbasis lignin. Kerangka tersebut menunjukkan pentingnya
kemampuan pembentukan serat dan homogenitas morfologi dalam menentukan
performa akhir serat. Melalui penelitian ini diharapkan limbah lindi hitam industri
pulp dan kertas yang semula memberikan dampak negatif pada lingkungan dapat
ditingkatkan nilai gunanya menjadi serat berperforma tinggi. Selain itu, hasil
penelitian ini diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi Indonesia di bidang
ilmu pengetahuan, lingkungan, dan industri, khususnya industri-industri pengguna
serat berperforma tinggi sehingga untuk masa yang akan datang Indonesia dapat
memenuhi kebutuhan akan serat secara mandiri.
Perpustakaan Digital ITB