Teknologi Reversible Solid Oxide Cell (RSOC) menawarkan solusi penyimpanan
energi berkelanjutan dengan kemampuan operasi ganda sebagai Solid Oxide Fuel
Cell (SOFC) dan Solid Oxide Electrolysis Cell (SOEC). Teknologi ini sangat
menjanjikan untuk integrasi energi terbarukan karena mampu mengkonversi listrik
menjadi bahan bakar (power-to-gas) dan sebaliknya saat dibutuhkan. Penelitian ini
mengembangkan dan mengevaluasi kinerja sel tunggal serta susunan (stack) 2 sel
RSOC berbasis anode-supported dengan material anoda NiO-CSZ, elektrolit CSZ
yang didoping (Li-Na)2CO2 sebesar 7,5%-berat, dan katoda CCZO. Karakterisasi
elektrokimia dilakukan pada rentang suhu 600–800°C dengan variasi laju alir gas
hidrogen dan udara. Hasil menunjukkan sel tunggal mode SOFC mencapai OCV
0,193 V dan rapat daya maksimum 0,311 mW/cm² pada 800°C, sedangkan mode
SOEC mencapai overpotensial 1,257 V pada rapat arus 0,454 mA/cm². Konfigurasi
stack 2 sel menghasilkan OCV 0,506 V dan rapat daya maksimum 0,51 mW/cm²
pada 800°C, yang lebih tinggi dari sel tunggal, dengan overpotensial per sel yang
lebih rendah (0,898 V) dibandingkan sel tunggal. Namun, kinerja stack masih
terbatas oleh masalah rekayasa seperti distribusi gas yang tidak merata dan
kebocoran sealant. Analisis SEM-EDS dan XRD mengkonfirmasi terjadinya
degradasi parah akibat kekurangan pasokan bahan bakar, yang ditandai dengan
oksidasi nikel, degradasi fase elektrolit CSZ, serta korosi pada current collector,
terutama pada sel stack bagian atas setelah proses reversible. Hasil ANOVA
menunjukkan temperatur operasi sebagai faktor paling berpengaruh terhadap
kinerja. Penelitian ini menegaskan potensi besar material berbasis CSZ-(Li-Na)2CO2 untuk aplikasi RSOC, namun sekaligus menekankan perlunya optimasi
desain stack dan manajemen termal guna meningkatkan efisiensi dan ketahanan
jangka panjang sistem.
Perpustakaan Digital ITB