Jalan dan jembatan merupakan infrastruktur penting yang mendukung mobilitas
masyarakat serta aktivitas ekonomi. Pengelolaannya menuntut adanya mekanisme
pemantauan dan penanganan yang lebih cepat, tepat, dan terintegrasi melalui
transformasi digital. Sebagai implementasi di tingkat daerah, Dinas Bina Marga dan
Penataan Ruang (DBMPR) Provinsi Jawa Barat mengembangkan platform digital
Teman Jabar (Sistem Monitoring Jalan dan Jembatan Jawa Barat) untuk
meningkatkan keterlibatan publik dan mengelola data infrastruktur. Pada awal
pembangunannya, platform Teman Jabar beserta aplikasi pendukungnya seperti
Sipelajar, Talikuat, Sapu Lobang, dan Systarumija menggunakan pendekatan
arsitektur monolitik. Seiring meningkatnya jumlah pengguna dan kebutuhan
integrasi, arsitektur monolitik menunjukkan keterbatasan. Keseluruhan modul yang
tergabung dalam satu aplikasi menciptakan tingkat ketergantungan antar komponen
yang tinggi (tight coupling). Hal ini berdampak pada keterbatasan skalabilitas,
kesulitan pemeliharaan, serta tingginya risiko kegagalan sistem secara menyeluruh
(cascading failure) dan downtime yang dapat mengganggu layanan publik.
Penelitian ini bertujuan untuk merancang arsitektur platform Teman Jabar berbasis
microservices menggunakan metodologi Service Computing System Engineering
(SCSE) guna mengatasi permasalahan pada arsitektur monolitik tersebut.
Pengembangan difokuskan pada tahap Objective and Requirements, Modeling, dan
Development untuk menghasilkan prototipe arsitektur yang modular dan
terdistribusi. Prinsip pengembangan yang diterapkan berfokus pada dekomposisi
layanan menggunakan Domain-Driven Design (DDD) untuk mencapai loose
coupling dan high cohesion. Berdasarkan hasil analisis domain, platform Teman
Jabar diklasifikasikan menjadi beberapa batas layanan (bounded context), yang
kemudian menghasilkan enam inovasi layanan inti, yaitu Layanan Pemeliharaan
Jalan dan Jembatan, Layanan Pengelolaan User, Layanan Pengaduan Masyarakat,
Layanan Monitoring Paket Pekerjaan, Layanan Pengelolaan Aset dan Perizinan,
serta Layanan Informasi dan Dashboard. Setiap layanan ini diimplementasikan
secara independen menggunakan teknologi containerization Docker dengan
antarmuka berbasis Application Programming Interface (API).
Evaluasi rancangan arsitektur dilakukan terhadap dua aspek utama, yaitu kualitas
desain layanan secara struktural dan atribut kualitas sistem pada tingkat prototipe.
Pengukuran metrik desain layanan dilakukan menggunakan empat parameter
kuantitatif. Hasil pengukuran menunjukkan nilai Coupling Factor (CopF) sebesar
0,001832, Cohesion Factor (CohF) sebesar 0,9118, Complexity Factor (ComF)
sebesar 0,002009, dan Reusability Factor (ResF) sebesar 3,18. Nilai evaluasi
tersebut mengonfirmasi bahwa rancangan arsitektur microservices yang diusulkan
telah terhindar dari kerumitan desain dan berhasil mencapai karakteristik
fundamental microservices, yaitu tingkat loose coupling yang tinggi, high cohesion,
low complexity, serta memiliki potensi guna ulang (reusability) yang baik untuk
mendukung integrasi dengan sistem pemerintah daerah lainnya.
Selain evaluasi desain, pengujian juga dilakukan untuk memvalidasi atribut kualitas
sistem, khususnya terkait interoperabilitas, stabilitas, dan ketahanan sistem
(resilience). Pengujian interoperabilitas internal berbasis API menunjukkan
keberhasilan komunikasi dan konsistensi pertukaran data secara sinergis antar
layanan. Pada pengujian stabilitas dengan skenario hantaman beban ekstrem secara
serentak mencapai total 95.920 permintaan (requests), sistem mampu memproses
dengan tingkat keberhasilan (success rate) otentikasi mencapai 100% dan tingkat
kesalahan (error rate) sebesar 0,0%. Lebih lanjut, pengujian ketahanan (resilience
testing) dilakukan menggunakan pendekatan Chaos Engineering melalui skenario
isolasi kegagalan (fault injection). Hasilnya membuktikan bahwa gangguan atau
penghentian paksa pada satu layanan tidak menyebabkan propagasi kegagalan ke
layanan lain, sehingga sistem terhindar dari cascading failure. Waktu rata-rata
pemulihan sistem (Mean Time To Recovery atau MTTR) juga tercatat sangat cepat,
yaitu pada rentang 800 hingga 1.200 milidetik. Hasil penelitian ini menyimpulkan
bahwa penerapan arsitektur microservices menggunakan kerangka kerja SCSE
memberikan landasan teknologi yang modular, adaptif, dan tangguh untuk
pengembangan platform sistem monitoring infrastruktur di masa mendatang.
Perpustakaan Digital ITB