Fenomena echo chamber pada media sosial memperkuat bias konfirmasi dan
polarisasi opini publik. Penelitian sebelumnya oleh Aidira (2025) mengukur Echo
Chamber Ratio (ECR) berbasis komunitas Louvain, namun memiliki dua
keterbatasan, yakni Louvain tidak menjamin keterhubungan internal komunitas dan
skor sentimen belum dikalibrasi. Tugas akhir ini bertujuan mengembangkan model
pengukuran echo chamber untuk mengatasi kedua keterbatasan tersebut.
Model dibangun dengan mengintegrasikan tiga komponen: (1) deteksi komunitas
Leiden (menjamin well-connected) dan Infomap (berbasis aliran informasi) yang
disatukan melalui Multi-level Consensus Clustering; (2) kalibrasi probabilistik skor
sentimen; dan (3) penentuan threshold berbasis null model permutasi. Model
dievaluasi pada enam topik berbahasa Indonesia di Twitter (X), yakni Indonesia
Vaccination, Indonesia Gelap, Boikot Produk Israel, Ijazah Jokowi, Korupsi Haji,
dan Keracunan MBG.
Hasil pengujian menunjukkan Leiden menghasilkan komunitas yang lebih
terhubung dan tidak terfragmentasi dibanding Louvain, sedangkan kalibrasi
isotonic menurunkan Expected Calibration Error mendekati nol. Berdasarkan ECR
dan uji hipotesis null model, tiga topik terdeteksi echo chamber (Korupsi Haji,
Ijazah Jokowi, Keracunan MBG) dan tiga lainnya bukan, dengan klasifikasi
konsisten penuh (6 dari 6) terhadap penilaian pakar penyedia data.
Perpustakaan Digital ITB