Video deepfake yang beredar di media sosial Indonesia umumnya mengalami kompresi
berat, sementara model deteksi state-of-the-art seperti XceptionNet hanya mengandalkan
informasi visual dan tidak memiliki jalur khusus untuk mendeteksi manipulasi
suara (voice clone). Penelitian ini bertujuan mengembangkan model deteksi
deepfake yang memanfaatkan informasi visual dan audio sekaligus serta dirancang
agar lebih tahan terhadap kompresi video pada konten video etnis Indonesia. Model
yang diusulkan, Multi-Domain Audio-Visual Network (MultiDAV), mengintegrasikan
empat cabang fitur (spasial, frekuensi, temporal, dan audio) melalui Gated
Fusion Module dan Audio Gating Mechanism, dilengkapi komponen fairness untuk
membantu menjaga kesetaraan performa antar suku. Model dilatih dan diuji pada
gabungan dataset IndoDeepfake (Indo-MM, Indo-FS, Indo-VC) dan FaceForensics++
(FF-DF, FF-F2F, FF-NT), dibandingkan dengan baseline XceptionNet pada
tiga kondisi resolusi/kompresi. Hasil evaluasi menunjukkan MultiDAV memiliki
nilai Area Under the Curve (AUC) yang lebih tinggi dibanding XceptionNet pada
seluruh kombinasi dataset di kondisi kompresi berat (Low-Res), serta menunjukkan
selisih AUC yang cukup besar pada dataset manipulasi audio murni Indo-VC (AUC
0,77–0,85 dibanding 0,46–0,56). Dari sisi fairness, model menunjukkan penurunan
nilai Gap in False Positive Rate (GFPR) yang cukup konsisten khususnya pada Indo-
VC, meski metrik Equalized Odds (EO) masih relatif tinggi dan sulit ditekan lebih
jauh akibat keterbatasan ukuran batch pada penelitian ini. Secara umum, pendekatan
multi-domain ini menunjukkan kecenderungan lebih tahan terhadap kompresi
dan mampu menangkap sinyal manipulasi audio yang tidak terjangkau oleh model
SOTA berbasis visual murni, meskipun kecenderungan ini belum seragam pada seluruh
kondisi pengujian dan kesetaraan performa antar suku masih menjadi tantangan
yang belum sepenuhnya terselesaikan.
Perpustakaan Digital ITB