Metode yang digunakan GMF saat ini belum dapat menentukan biaya dan workscope pada perawatan-perawatan yang akan datang. Agar dapat melakukan penghematan pada shop visit pertama hingga mesin pesawat tersebut tidak digunakan
kembali (scrap) dibutuhkan sebuah metode optimasi penentuan workscope perawatan yang membahas secara menyeluruh. Untuk mengoptimasi yang dapat dilakukan maka dibutuhkan data aktual mengenai biaya perawatan saat ini.
Dalam penelitian ini dilakukan pengembangan metode yang dapat menentukan ruang lingkup pekerjaan pada saat mesin melakukan shop visit untuk mengoptimasikan biaya perawatan per engine flight cycle. Variabel penentu untuk dapat mengoptimasi biaya perawatan yaitu umur sisa Life Limit Part (LLP) yang harus diganti dan Exhaust Gas Temperature (EGT) margin. Metode diuji dengan data lampau dan kemudian
diimplementasi untuk mendapatkan batas sisa umur LLP yang harus diganti agar menghasilkan biaya perawatan mesin yang paling optimum. Pengujian membuktikan bahwa metode yang baru terbukti valid. Untuk mesin dengan thrust rating 20.000 lbs dan 22.000 lbs didapat sisa umur LLP yang harus diganti agar mendapatkan biaya perawatan yang paling optimum adalah LLP dengan sisa umur dibawah 5.000 FC, sedangkan untuk mesin dengan thrust rating 23.500 lbs adalah LLP dengan sisa umur dibawah 1.250 FC. Implementasi ini juga menunjukan bahwa mesin dengan thrust rating 23.500 lbs tidak direkomendasikan untuk digunakan di Indonesia.
Perpustakaan Digital ITB