Proses pendeteksian manipulasi video deepfake di Indonesia menghadapi kendala
krusial terkait penyebaran melalui platform media sosial yang menerapkan kompresi
agresif. Saat ini, kondisi mayoritas dataset deepfake global masih didominasi
oleh subjek ras asing (Kaukasia) dan berfokus pada video berkualitas tinggi. Hal
tersebut menciptakan kesenjangan (gap) berupa bias demografis yang memicu tingginya
tingkat kesalahan klasifikasi algoritma pada wajah lokal, serta ketidakmampuan
model dalam menangani hilangnya jejak forensik tingkat piksel pada resolusi
rendah. Untuk mengatasi kesenjangan tersebut, penelitian ini mengembangkan dataset
IndoDeepfake khusus etnis Indonesia menggunakan pendekatan data-centric.
Pengembangan diawali dengan mengakuisisi 208 video beresolusi tinggi (720p) dari
13 kelompok suku bangsa utama di Indonesia guna menekan bias rasial. Proses
generasi kepalsuan dilakukan ke dalam tiga kategori utama: FaceSwap, VoiceClone,
dan Multimodal (lip-sync). Guna meniru skenario penyebaran disinformasi di
lapangan secara nyata, sistem menerapkan emulasi degradasi kualitas dengan menjadikan
dataset ini memiliki dua variasi kualitas utama, yaitu resolusi asli 720p dan
kompresi ekstrem 144p (dengan penekanan laju bit audio ke 48 kbps), menghasilkan
total 2.912 berkas data. Evaluasi ruang laten menggunakan algoritma t-SNE membuktikan
bahwa kompresi 144p merusak karakteristik diskriminatif visual secara
masif. Pengujian ketahanan menggunakan XceptionNet menunjukkan performa deteksi
yang anjlok secara drastis? akurasi pada kelas Multimodal merosot dari 83,78%
(720p) menjadi 50,85% (144p), performa kelas FaceSwap merosot tajam dengan
tingkat probabilitas kegagalan atau Equal Error Rate (EER) menyentuh 50,00%,
dan akurasi kelas VoiceClone stagnan di kisaran 52%-57%. Kesimpulannya, dataset
IndoDeepfake varian 144p terbukti memvalidasi hipotesis kerusakan artifak,
menjadikannya benchmark pengujian yang jauh lebih menantang dan realistis dibandingkan
skenario kualitas rendah pada dataset global terdahulu.
Perpustakaan Digital ITB