Penurunan produksi minyak di Indonesia, khususnya pada lapangan dengan
kategori depleted reservoir, mendorong penerapan metode chemical enhanced oil
recovery melalui injeksi surfaktan. Penelitian ini bertujuan menentukan salinitas
optimum formulasi pasangan surfaktan anionik dan zwitterionik berkonsentrasi
total 0.5 wt% serta mengevaluasi kemampuannya dalam meningkatkan perolehan
minyak. Penentuan salinitas optimum dilakukan melalui pengujian phase behavior
untuk mengidentifikasi pembentukan mikroemulsi dan solubilization ratio, serta
pengukuran interfacial tension untuk memperoleh nilai tegangan antarmuka
terendah antara minyak dan larutan surfaktan. Hasil preliminary screening
menunjukkan bahwa salinitas 1300 ppm NaCl memberikan kinerja terbaik yang
ditandai oleh pembentukan mikroemulsi Winsor Type III, keseimbangan solubilisasi
minyak dan air, serta nilai interfacial tension terendah.
Hasil tersebut selanjutnya divalidasi melalui eksperimen microfluidic
menggunakan micromodel dengan struktur pori sintetik dengan permeabilitas
efektif sekitar 350 sampai 400 mD dan porositas 0.26. Citra beresolusi tinggi
selama proses waterflooding dan surfactant flooding dianalisis menggunakan
metode image analysis berbasis MATLAB dengan algoritma Otsu Image
Thresholding. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi salinitas
waterflooding dan surfactant flooding sebesar 1300 ppm NaCl menghasilkan
recovery factor total tertinggi sebesar 45%. Pada kondisi tersebut juga teramati
pembentukan mikroemulsi pada skala pori. Temuan ini menunjukkan bahwa
salinitas optimum meningkatkan mobilisasi minyak residual melalui penurunan
interfacial tension, pengurangan gaya kapiler, dan perbaikan efisiensi pendesakan.
Dengan demikian, eksperimen microfluidic mengonfirmasi hasil pengujian phase
behavior dan interfacial tension serta menunjukkan potensi formulasi surfaktan
tersebut untuk aplikasi chemical enhanced oil recovery.
Perpustakaan Digital ITB