digilib@itb.ac.id +62 812 2508 8800

Penurunan produksi minyak di Indonesia, khususnya pada lapangan dengan kategori depleted reservoir, mendorong penerapan metode chemical enhanced oil recovery melalui injeksi surfaktan. Penelitian ini bertujuan menentukan salinitas optimum formulasi pasangan surfaktan anionik dan zwitterionik berkonsentrasi total 0.5 wt% serta mengevaluasi kemampuannya dalam meningkatkan perolehan minyak. Penentuan salinitas optimum dilakukan melalui pengujian phase behavior untuk mengidentifikasi pembentukan mikroemulsi dan solubilization ratio, serta pengukuran interfacial tension untuk memperoleh nilai tegangan antarmuka terendah antara minyak dan larutan surfaktan. Hasil preliminary screening menunjukkan bahwa salinitas 1300 ppm NaCl memberikan kinerja terbaik yang ditandai oleh pembentukan mikroemulsi Winsor Type III, keseimbangan solubilisasi minyak dan air, serta nilai interfacial tension terendah. Hasil tersebut selanjutnya divalidasi melalui eksperimen microfluidic menggunakan micromodel dengan struktur pori sintetik dengan permeabilitas efektif sekitar 350 sampai 400 mD dan porositas 0.26. Citra beresolusi tinggi selama proses waterflooding dan surfactant flooding dianalisis menggunakan metode image analysis berbasis MATLAB dengan algoritma Otsu Image Thresholding. Hasil analisis menunjukkan bahwa kombinasi salinitas waterflooding dan surfactant flooding sebesar 1300 ppm NaCl menghasilkan recovery factor total tertinggi sebesar 45%. Pada kondisi tersebut juga teramati pembentukan mikroemulsi pada skala pori. Temuan ini menunjukkan bahwa salinitas optimum meningkatkan mobilisasi minyak residual melalui penurunan interfacial tension, pengurangan gaya kapiler, dan perbaikan efisiensi pendesakan. Dengan demikian, eksperimen microfluidic mengonfirmasi hasil pengujian phase behavior dan interfacial tension serta menunjukkan potensi formulasi surfaktan tersebut untuk aplikasi chemical enhanced oil recovery.