ABSTRAK Lintang Kusumaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 1 Lintang Kusumaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 2 Lintang Kusumaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 3 Lintang Kusumaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 4 Lintang Kusumaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 5 Lintang Kusumaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
BAB 6 Lintang Kusumaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
PUSTAKA Lintang Kusumaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
LAMPIRAN Lintang Kusumaharani
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Terbatas Yoninur Almira
» Gedung UPT Perpustakaan
» ITB
Low Emission Zone (LEZ) merupakan salah satu instrumen pengendalian dalam manajemen transportasi perkotaan yang dirancang untuk menurunkan tingkat polusi udara melalui pembatasan kendaraan pribadi sekaligus mendorong peralihan ke moda transportasi berkelanjutan. Kawasan perkotaan dengan intensitas pergerakan tinggi perlu memiliki sistem sirkulasi yang mendukung mobilitas rendah emisi. Namun, penerapan LEZ pada beberapa kawasan masih menghadapi tantangan berupa lemahnya dukungan infrastruktur dan desain ruang, sehingga efektivitas kebijakan pembatasan kendaraan menjadi belum optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa keberhasilan LEZ tidak hanya ditentukan oleh aturan pembatasan administratif, tetapi juga oleh sejauh mana desain fisik kawasan, khususnya sirkulasi dan ruang pejalan kaki mampu membentuk pola pergerakan yang berorientasi pada mobilitas rendah emisi. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pengaruh penataan sirkulasi dan jalur pejalan kaki terhadap penurunan emisi dengan menjadikan LEZ sebagai kerangka perancangan pada Kawasan Kota Surabaya. Menggunakan pendekatan mixed method, penelitian dilakukan melalui observasi, traffic counting, studi literatur, dan tinjauan preseden untuk merumuskan prinsip perancangan LEZ serta menghitung potensi penurunan emisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persoalan utama kawasan dalam penerapan LEZ meliputi belum terintegrasinya jalur pejalan kaki dan pesepeda, belum meratanya konektivitas menuju transportasi umum, serta dominasi kendaraan bermotor di kawasan. Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini memberikan arahan intervensi berupa perbaikan trotoar, penyediaan lajur sepeda, penataan fasilitas penyeberangan, serta penguatan konektivitas menuju transportasi umum. Intervensi penataan sistem sirkulasi dan jalur pejalan kaki tersebut berpotensi menurunkan emisi CO sebesar 5,05 ton/tahun (0,41%), CO? sebesar 426,86 ton/tahun (2,22%), NOx sebesar 3,60ton/tahun (7,68%), dan PM2.5 sebesar 0,11 ton/tahun (1,89%).
Perpustakaan Digital ITB